Jakarta (tutur.co.id) – Pemerintah Indonesia dan India tengah memfinalisasi nota kesepahaman (MoU) kerja sama investasi di sektor industri logam. Kesepakatan ini diharapkan memperkuat hilirisasi mineral nasional sekaligus mendorong pengembangan industri barang modal berbasis logam.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, dalam rancangan MoU tersebut, pemerintah India akan mendorong perusahaan-perusahaan asal negaranya untuk menanamkan modal di Indonesia, khususnya pada sektor industri logam.
“Dari India, mereka juga akan mendorong investasi perusahaan-perusahaan India untuk melakukan investasi di Indonesia, terutama di industri logam,” ujar Yuliot.
Dorong Hilirisasi dan Industri Barang Modal
Tak hanya investasi hulu dan pengolahan, kerja sama ini juga akan menjajaki pengembangan lanjutan dari industri logam menjadi peralatan serta barang modal yang dapat diproduksi secara bersama.
Menurut Yuliot, kedua negara melihat peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah mineral melalui hilirisasi yang terintegrasi, termasuk pemanfaatan logam sebagai bahan baku industri manufaktur strategis.
“Dari sisi pemanfaatan, ada kelanjutan hilirisasi dari industri logam itu untuk peralatan-peralatan atau industri barang modal yang bisa sama-sama dikembangkan,” katanya.
Langkah ini sejalan dengan agenda industrialisasi nasional yang mendorong transformasi dari eksportir bahan mentah menjadi produsen produk bernilai tambah tinggi.
Riset dan Inovasi Jadi Fokus
Selain penguatan produksi, MoU juga akan mencakup kerja sama riset dan inovasi untuk pengembangan barang modal yang lebih efisien dan kompetitif.
Yuliot menjelaskan, pemerintah India akan menyampaikan draf MoU yang selanjutnya akan dikonsultasikan dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia terkait kerangka kerja sama.
Setelah proses harmonisasi, dokumen tersebut direncanakan ditindaklanjuti dengan penandatanganan antarmenteri, yakni Menteri ESDM Indonesia dan Menteri Logam India.
Kerja sama ini dinilai strategis di tengah meningkatnya kebutuhan global terhadap komoditas logam dan mineral kritis, sekaligus membuka peluang transfer teknologi serta penguatan rantai pasok industri nasional.

