Yogyakarta (tutur.co.id) – Kepadatan arus mudik Lebaran 2026 mulai mencapai titik puncak di sejumlah simpul transportasi. Di Stasiun Tugu, Yogyakarta, lonjakan penumpang tak terhindarkan. Namun, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memastikan situasi tetap terkendali, meski tekanan arus meningkat signifikan.
“Hari ini kami mendapatkan kesempatan untuk meninjau langsung di Stasiun Tugu Yogyakarta. Dan tadi kami meninjau beberapa titik yang merupakan pusat pelayanan ataupun sentra pelayanan dalam rangka pelaksanaan Operasi Ketupat 2026, khususnya untuk pelayanan di Stasiun Tugu Yogyakarta,” kata Sigit, Rabu (18/3/2026) malam.
Dari laporan lapangan, kepadatan penumpang kereta api menunjukkan tren kenaikan. Sigit menyebut angka kedatangan telah menembus lebih dari 55 ribu orang, menandai puncak arus mudik di stasiun tersebut. “Dari laporan tadi, kita mendapatkan informasi bahwa puncak mudik untuk kedatangan ya, kereta, ini ada kurang lebih 54.000 yang datang, dan ini naik menjadi 55.000. Artinya ada kenaikan persentase,” ujar Sigit.
Meski demikian, lonjakan ini menegaskan satu hal: kereta api masih menjadi moda favorit pemudik. Faktor keamanan, kenyamanan, dan ketepatan waktu membuat transportasi rel tetap unggul di tengah risiko kemacetan jalur darat. Pemeriksaan terhadap masinis pun menjadi perhatian. “Dan kemudian kita lihat juga tadi ada tempat pengecekan untuk masinis yang akan laksanakan tugasnya, sehingga ini juga untuk memastikan bahwa pada saat bertugas dalam kondisi sehat dan siap untuk melaksanakan tugasnya,” ucap Sigit.
Di tengah puncak kepadatan arus, aparat mencoba menghadirkan inovasi layanan. Salah satunya aplikasi “Si Parjo” yang disiapkan Polresta Yogyakarta untuk memfasilitasi penitipan kendaraan masyarakat selama mudik. Upaya ini menjadi respons atas kebutuhan praktis pemudik yang meninggalkan kendaraan pribadi.
Secara umum, kepolisian mengklaim kondisi masih terkendali, bahkan di tengah penerapan rekayasa lalu lintas berskala nasional. “Secara umum tadi dilaporkan bahwa situasi di Stasiun Yogyakarta relatif masih aman, tidak ada keluhan yang berarti ya. Dan kemudian kita juga mendapatkan informasi bahwa hari ini untuk Jakarta sudah mulai dilaksanakan One Way nasional dan kemudian juga ada One Way lokal,” tegas Sigit.

Namun, di balik klaim kelancaran itu, puncak arus mudik harus diikuti pelayanan puncak. Sigit mengakui lonjakan terjadi di berbagai moda transportasi. “Jadi tentunya ini semua kita lakukan untuk memastikan di kegiatan yang mulai kita lihat tren peningkatan arus, baik di jalur tol maupun juga jalur kereta dan juga di penyeberangan, semuanya dalam kondisi yang betul-betul bisa diberikan pelayanan yang maksimal,” tutur Sigit.
Di sisi lain, aparat mencatat penurunan angka kecelakaan hingga 40 persen dibanding tahun lalu—sebuah capaian yang ingin dipertahankan. Meski demikian, Sigit tetap mengingatkan risiko perjalanan jarak jauh yang kerap diabaikan pemudik. “Perhatikan keselamatan pribadi, bagi pengemudi perhatikan keselamatan penumpang, dan kita harapkan bahwa manfaatkan rest area yang ada,” ucapnya.
“Dan kalau capek, tolong siapkan pengemudi pengganti, sehingga kemudian perjalanannya betul-betul bisa lancar, aman, dan sampai tujuan dengan selamat,” tambahnya.

