Jakarta (Tutur.co.id) – Presiden Prabowo Subianto kembali ke Jakarta setelah merampungkan rangkaian kunjungan kenegaraan selama tiga hari di Paris, Prancis. Kepulangan Kepala Negara menandai berakhirnya lawatan yang tidak hanya dipenuhi agenda diplomatik tingkat tinggi, tetapi juga menghasilkan sejumlah kesepakatan baru antara Indonesia dan Prancis.
Pesawat Garuda Indonesia-1 PK-GIF yang membawa Presiden Prabowo dan delegasi terbatas lepas landas dari Bandara Orly, Paris, Jumat (29/5) waktu setempat menuju Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta. Dalam perjalanan pulang, Presiden didampingi Menteri Luar Negeri Sugiono dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Kepulangan Prabowo dilepas melalui prosesi upacara militer yang digelar Pemerintah Prancis di Bandara Orly. Presiden menerima penghormatan dari pasukan jajar kehormatan yang berdiri di sisi kiri dan kanan karpet merah sebelum memasuki pesawat kepresidenan.
“Suasana pelepasan berlangsung khidmat sebagai bentuk penghormatan Pemerintah Republik Prancis kepada Kepala Negara Indonesia,” demikian keterangan Sekretariat Presiden.
Selama berada di Paris pada 27–29 Mei 2026, Prabowo menjalani sejumlah agenda penting, mulai dari upacara penyambutan kenegaraan di Les Invalides hingga pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Élysée. Pertemuan kedua pemimpin negara itu membahas penguatan kerja sama strategis di berbagai bidang, termasuk pertahanan, ekonomi, investasi, pendidikan, hingga kerja sama kawasan Indo-Pasifik.
Selain agenda bilateral, Prabowo juga menghadiri jamuan santap malam kenegaraan yang digelar Presiden Macron di Istana Élysée. Dalam suasana yang berlangsung hangat tersebut, kedua negara kembali menegaskan komitmen untuk mempererat hubungan Indonesia–Prancis yang selama ini terus berkembang.
Kunjungan ke Paris menghasilkan sejumlah capaian konkret. Pemerintah Indonesia dan Prancis dilaporkan menyepakati empat kerja sama baru yang mencakup sektor strategis dan komersial, sekaligus memperluas kemitraan kedua negara ke level yang lebih tinggi.
Lawatan ini juga kembali menegaskan gaya diplomasi aktif yang menjadi ciri pemerintahan Prabowo sejak menjabat Presiden. Di tengah berbagai kritik mengenai intensitas kunjungan luar negerinya, Prabowo terus menempatkan diplomasi internasional sebagai instrumen penting untuk memperkuat posisi Indonesia di tingkat global serta membuka peluang kerja sama ekonomi dan investasi.
Dengan berakhirnya kunjungan di Paris, perhatian kini beralih pada tindak lanjut berbagai kesepakatan yang telah dicapai. Tantangan berikutnya bukan lagi seremoni diplomatik, melainkan bagaimana hasil pertemuan tingkat tinggi tersebut dapat diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi kepentingan nasional Indonesia.

