Jakarta (tutur.co.id)– Memasuki sepuluh hari puasa pertama, yang paling sering muncul pada perasaan adalah niat yang menguat, dan emosi yang sedikit goyah. Lapar belum sepenuhnya terbiasa. Kepala terasa ringan. Komentar kecil terdengar lebih tajam. Notifikasi kerja terasa lebih mengganggu dari biasanya. Anda jadi lebih mudah tersinggung lalu bertanya dalam hati, kenapa baru juga hari kedua sudah terasa berat?
Jawabannya mungkin bukan sekadar soal sabar. Ada hormon dan ritme biologis yang sedang bernegosiasi di dalam tubuh yang harus Anda ketahui saat memasuki periode awal Ramadan.
Ketika Gula Darah Turun, Emosi Ikut Bergetar
Otak adalah organ yang sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama. Saat asupan makan berhenti mendadak dalam durasi panjang, tubuh butuh waktu untuk beradaptasi.
Di awal puasa, kadar gula darah bisa menurun lebih cepat sebelum metabolisme stabil. Penurunan ini tidak hanya memengaruhi energi fisik, tetapi juga regulasi emosi.
Tinjauan dalam Nature Reviews Neuroscience menjelaskan bahwa fungsi pengendalian diri dan regulasi emosi sangat bergantung pada kerja prefrontal cortex bagian otak yang berperan dalam kontrol diri dan pengambilan keputusan. Ketika suplai energi menurun, kemampuan regulasi ini pun ikut terdampak.
Akibatnya, respons emosional bisa terasa lebih cepat dan lebih mentah. Istilah populernya mungkin “hangry” gabungan antara hungry atau lapar dan angry alias marah. Namun di baliknya, ada mekanisme biologis yang nyata.
Jam Tidur yang Bergeser, Emosi yang Lebih Reaktif
Ramadan hampir selalu mengubah pola tidur. Sahur dini hari, ibadah malam, atau waktu tidur yang terpotong membuat ritme istirahat Anda pun bergeser. Kurang tidur bukan sekadar soal kantuk. Ini memengaruhi cara otak memproses emosi.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Sleep menunjukkan bahwa deprivasi tidur dapat meningkatkan aktivitas amigdala pusat emosi di otak secara signifikan. Di saat yang sama, koneksi antara amigdala dan prefrontal cortex melemah.
Artinya, bagian otak yang memicu emosi menjadi lebih aktif, sementara bagian yang berfungsi sebagai “rem” justru melemah. Tak heran jika kita menjadi lebih sensitif terhadap hal-hal kecil.
Kortisol dan Ritme Sirkadian yang Sedang Menyesuaikan
Tubuh manusia bekerja mengikuti ritme sirkadian, yaitu jam biologis 24 jam yang mengatur siklus tidur, energi, dan hormon. Salah satu hormon penting dalam ritme ini adalah kortisol, yang sering disebut sebagai hormon stres. Dalam kondisi normal, kadar kortisol meningkat di pagi hari untuk membantu kita bangun dan fokus, lalu menurun menjelang malam.
Perubahan waktu makan dan tidur Anda selama Ramadan dapat memengaruhi pola sekresi kortisol. Sejumlah penelitian tentang puasa intermiten menunjukkan adanya fase adaptasi hormonal di awal periode puasa sebelum tubuh mencapai keseimbangan baru.
Selama fase penyesuaian ini, tubuh Anda bisa saja terasa lebih mudah lelah atau tegang. Emosi pun ikut terpengaruh. Namun tubuh manusia adaptif. Setelah beberapa hari, metabolisme menjadi lebih efisien, ritme tidur mulai menemukan pola, dan sistem hormonal kembali lebih stabil. Banyak orang justru merasakan ketenangan yang lebih dalam di pertengahan Ramadan.
Belajar Lebih Lembut pada Diri Sendiri
Mengetahui bahwa emosi yang lebih sensitif di awal Ramadan memiliki dasar biologis memberi perspektif yang berbeda. Ini bukan tentang iman yang melemah. Ini tentang tubuh yang sedang belajar ulang ritmenya.
Barangkali, selain menahan lapar, Ramadan juga mengajarkan satu hal lain bagi Anda yaitu memberi ruang adaptasi. Untuk diri sendiri. Dan untuk orang lain.

