Bali (tutur.co.id)- PT Pertamina terus memperkuat komitmennya mendukung ketahanan sekaligus transisi energi nasional melalui strategi pertumbuhan ganda atau dual growth strategy, yakni memaksimalkan bisnis inti (maximizing legacy business) dan membangun bisnis rendah karbon (building low carbon business).
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, mengatakan strategi tersebut dijalankan melalui optimalisasi bisnis hulu, pembangunan fleksibilitas kilang, transformasi bisnis retail fuel, hingga perluasan infrastruktur dan layanan energi.
“Dan di situ saya yakin Pertamina menjadi sebuah contoh, karena di saat dunia ini menghadapi banyak ketidakpastian secara geopolitik, dengan adanya konflik di berbagai belahan dunia, kemudian juga ketidakpastian mengenai bagaimana penanganan climate change,” ujar Agung dalam sesi diskusi panel “Decarbonization: Global Technology Trends and Best Practices”, berdasar keterangan tertulis yang diterima Redaksi Tutur, Kamis (4/6).
Diskusi tersebut merupakan bagian dari World Bank Energy Knowledge and Learning Forum East Asia & Pacific, forum regional terkait transisi energi berkelanjutan yang diinisiasi World Bank Group.
Dalam pemaparannya, Agung menjelaskan transisi energi dijalankan untuk mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060 dengan tetap menjaga keseimbangan antara keamanan energi, keterjangkauan, dan keberlanjutan (energy trilemma).
Pertamina mendorong pemanfaatan panas bumi sebagai energi bersih, pengurangan flaring, serta pengembangan energi baru terbarukan melalui biodiesel, bioethanol, dan CCS/CCUS (Carbon Capture and Storage/Carbon Capture Utilization and Storage).
Pada aspek dekarbonisasi operasional, Pertamina mengganti peralatan berbahan bakar fosil dengan peralatan bertenaga listrik. Program tersebut menghasilkan efisiensi energi sebesar 1,52 MMtCO2e atau 66,86 persen dari total upaya pengurangan emisi Pertamina.
Sementara di sektor bisnis rendah karbon, Pertamina memproyeksikan potensi penjualan biofuel mencapai 60 juta kiloliter pada 2029 melalui proyek utama Bio Refinery Cilacap. Perseroan juga mengembangkan proyek panas bumi berkapasitas 1,4 GW di Hululais dan Lahendong, termasuk Proyek Geothermal Lahendong Unit 7 dan 8 yang telah masuk Green Book Kementerian PPN/Bappenas untuk membuka peluang pendanaan internasional.
Selain itu, Pertamina menargetkan pengurangan emisi metana (CH4) sebesar 40 persen dari baseline 2021 melalui program zero flaring dan Leak Detection & Repair Campaign (LDAR). Program tersebut berhasil menekan emisi metana tak terkendali hingga 30–39,7 persen, termasuk di PEP Donggi Matindok, JOB Pertamina-Medco E&P Tomori, dan PT Badak NGL.

