Brussel (Tutur.co.id) – Gelandang senior Radja Nainggolan mengungkapkan penyesalan mendalam atas perjalanan karier internasionalnya bersama Timnas Belgia. Ia bahkan mengakui bahwa, jika waktu bisa diulang, dirinya akan memilih membela Timnas Indonesia lebih awal.
Pemain berusia 37 tahun itu hanya mencatat sekitar 30 penampilan bersama Belgia sebelum akhirnya tak lagi dipanggil sejak 2018. Ia menilai kontribusi dan pengorbanan yang telah diberikannya tidak sebanding dengan kesempatan yang didapat.
“Saya mengalami masa-masa yang sangat sulit dengan itu. Saya mengorbankan hidup saya untuk bisa bermain untuk Setan Merah,” ujar Nainggolan, seperti dikutip dari Voetbal Primeur pada Kamis (2/4/2026).
Kekecewaan tersebut mencapai puncaknya pada 2018, ketika ia tidak masuk dalam skuad Belgia untuk Piala Dunia. Keputusan itu, menurutnya, didasari alasan yang tidak masuk akal.
“Saya tidak diizinkan pergi ke Piala Dunia karena dianggap akan membuat keributan di bangku cadangan. Itu omong kosong besar,” tegasnya.
Sejak saat itu, hubungan Nainggolan dengan tim nasional Belgia merenggang. Ia memilih mundur dan tidak pernah lagi mendapat panggilan, yang secara efektif mengakhiri karier internasionalnya.
“Lalu saya berkata, oke kalau begitu selesai,” katanya.
Di sisi lain, Nainggolan memiliki kedekatan emosional dengan Indonesia. Ia memiliki darah Batak dari sang ayah, sementara ibunya berasal dari Belgia. Pengalaman bermain di Indonesia bersama Bhayangkara FC pada 2023 juga meninggalkan kesan mendalam baginya.
Ia mengaku merasakan penghargaan dan respek yang berbeda dari masyarakat Indonesia dibandingkan yang ia terima di Belgia.
“Saya bermain sepak bola di Indonesia selama enam bulan. Rasa hormat dan penghargaan yang saya terima di sana berasal dari dunia yang berbeda,” ujarnya.

