New York (Tutur.co.id) – Profesor ilmu politik dan pakar keamanan global dari University of Chicago, Robert A. Pape, menilai bahwa upaya militer untuk mengendalikan Selat Hormuz membutuhkan kekuatan yang sangat besar. Dalam skenario operasi penuh, Amerika Serikat diperkirakan memerlukan lebih dari 100.000 pasukan darat.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Teluk, di mana Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling krusial dalam konflik yang berkembang.
Menurut Pape, penguasaan wilayah strategis seperti Selat Hormuz tidak dapat dicapai hanya dengan kekuatan udara atau laut. Operasi semacam itu, kata dia, membutuhkan kehadiran pasukan darat dalam jumlah besar untuk memastikan kontrol penuh di lapangan.
Ia juga menyoroti keterbatasan kapasitas militer Amerika Serikat saat ini. Dalam pandangannya, Washington belum memiliki jumlah pasukan yang cukup untuk melakukan pendudukan penuh terhadap wilayah Iran dalam skala besar.
Dalam sejumlah analisis sebelumnya, Pape mengingatkan risiko munculnya escalation trap, yaitu kondisi ketika tekanan militer justru memperluas konflik dan memperumit penyelesaiannya.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital dalam perdagangan energi global, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati perairan tersebut. Karena itu, setiap upaya militer di kawasan ini memiliki dampak strategis yang luas, tidak hanya secara geopolitik, tetapi juga terhadap stabilitas ekonomi global.
Sejumlah skenario yang berkembang mencakup kemungkinan penguasaan pulau-pulau strategis di sekitar selat untuk mengamankan jalur pelayaran. Namun, langkah tersebut dinilai berisiko tinggi dan berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

