Jakarta (tutur.co.id) — Reli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai masih memiliki peluang berlanjut apabila didukung penurunan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) dan stabilisasi nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan premi risiko Indonesia sekaligus membuka ruang masuknya kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.
Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan yield obligasi pemerintah merupakan salah satu indikator utama yang saat ini dicermati investor dalam menilai keberlanjutan penguatan pasar saham Indonesia.
Menurut dia, jika rupiah mampu mempertahankan tren penguatan dan yield SBN tenor 10 tahun terus bergerak turun dari level puncaknya di atas 7,3%, maka persepsi risiko terhadap aset Indonesia akan semakin membaik.
“Jika rupiah mampu bertahan menguat dan yield SBN tenor 10 tahun turun secara bertahap dari level puncaknya di atas 7,3 persen menuju kisaran yang lebih rendah, premi risiko Indonesia akan menurun. Kondisi tersebut akan membuka ruang bagi masuknya kembali aliran dana asing ke pasar obligasi maupun saham,” ujar Rully dalam keterangannya, Selasa (16/6/2026).
Data perdagangan menunjukkan IHSG mengalami pemulihan signifikan dalam sepekan terakhir. Pada pembukaan perdagangan Selasa (9/6/2026), indeks berada di level 5.344,69 sebelum naik bertahap menjadi 5.744,06 pada Rabu, 5.899,27 pada Kamis, 5.960,27 pada Jumat, hingga mencapai 6.118,73 pada pembukaan perdagangan Senin (15/6/2026).
Rully menilai penguatan tersebut masih didominasi faktor technical rebound setelah pasar mengalami tekanan cukup dalam dalam beberapa bulan terakhir. Sentimen positif juga datang dari langkah Bank Indonesia yang menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% pada 9 Juni 2026 guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Selain faktor domestik, deeskalasi ketegangan geopolitik global turut memberikan dukungan terhadap pasar keuangan Indonesia. Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan ditandatangani pada 19 Juni 2026 membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga energi dan risiko inflasi global.
Perkembangan tersebut berdampak positif terhadap pergerakan rupiah dan pasar obligasi domestik. Stabilitas nilai tukar serta penurunan yield SBN dinilai menjadi kombinasi yang mampu meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia di mata investor global.
Meski demikian, Rully mengingatkan bahwa optimisme pasar masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut. Investor global masih mencermati sejumlah faktor eksternal, termasuk arah kebijakan moneter bank sentral utama dunia, perkembangan ekonomi global, serta stabilitas pasar keuangan domestik.
“Walaupun tanda-tanda perbaikan mulai terlihat, investor masih menunggu konfirmasi yang lebih kuat bahwa penurunan risk premium dan stabilisasi rupiah dapat berlanjut secara berkelanjutan sebelum optimisme terhadap pasar kembali menguat,” katanya.
Ia menambahkan, arus modal asing hingga saat ini masih bergerak selektif sehingga keberlanjutan reli IHSG akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah dan otoritas moneter menjaga stabilitas makroekonomi serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.
Pelaku pasar kini menanti sejumlah agenda penting, termasuk keputusan suku bunga Bank Indonesia dan The Federal Reserve (The Fed), yang diperkirakan akan menjadi katalis berikutnya bagi pergerakan IHSG, rupiah, maupun pasar obligasi Indonesia.

