Jakarta (Tutur.co.id) – Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI kini menjadi topik hangat di tengah masyarakat menyusul empat anggotanya yang kini terduga sebagai pelaku penyerangan air keras aktivis KontraS, Andrie Yunus. Apa itu BAIS? Apa bedanya dengan Badan Intelijen Negara (BIN)? Itu pertanyaan yang sering muncul.
BAIS TNI adalah lembaga intelijen militer di bawah Markas Besar Tentara Nasional Indonesia. BAIS punya tugas Utama menyediakan analisis intelijen dan strategi, baik aktual maupun perkiraan masa depan, bagi Panglima TNI dan Kementerian Pertahanan. BAIS juga menjadi ujung tombak deteksi dan pencegahan dini terhadap ancaman nasional.
Secara struktur, BAIS berada di bawah komando Markas Besar TNI dan dipimpin oleh Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais TNI), yang merupakan perwira tinggi bintang tiga.
BAIS punya unit khusus yakni Direktorat E (Radikal dan Teror) yang menangani isu terkait gerakan radikal dan terror. Serta ada tim CSIRT untuk penanganan insiden keamanan siber.
Kepala BAIS saat ini dijabat Letnan Jenderal TNI Yudi Abrimantyo. Ia resmi mengemban jabatan tersebut sejak 22 Maret 2024, menggantikan Letjen TNI Rudianto.
Bedanya dengan BIN
Perbedaan utama BAIS dengan BIN terletak pada ruang lingkup dan komando. BIN adalah lembaga intelijen sipil pusat yang melapor langsung ke Presiden untuk strategi nasional. Sedangkan BAIS TNI adalah intelijen militer yang fokus pada pertahanan di bawah Mabes TNI.
Atau sederhananya, BIN merupakan Lembaga pemerintahan non kementerian yang bertanggung jawb kepada Presiden. Sedangkan BAIS bagian dari TNI yang tentu bertanggung jawab kepada Panglima TNI.
Untuk fungsinya, BIN menangani intelijen dalam negeri dan luar negeri sendangkan BAIS menangani intelijen militer mencakup analisis strategis untuk operasi militer.
Lalu untuk personel, BIN gabungan dari unsur sipil dan militer/polisi. Sedangkan BAIS tentu didominasi personel TNI.
Meskipun berbeda fungsi, BIN dan BAIS sering berkoordinasi dalam menjaga keamanan nasional dan pemberantasan ancaman.

