Paris (tutur.co.id) — Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa pembukaan Selat Hormuz harus dilakukan melalui koordinasi dengan Iran, bukan melalui operasi militer.
Pernyataan tersebut disampaikan Macron pada Kamis, 2 April 2026, di tengah meningkatnya ketegangan global akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berdampak pada jalur energi dunia.
Macron menyatakan bahwa penggunaan kekuatan militer untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut bukanlah pilihan yang realistis.
Ia menilai bahwa operasi militer di kawasan tersebut akan memerlukan waktu yang tidak pasti serta menghadapi risiko besar, termasuk ancaman dari sistem pertahanan pesisir dan rudal balistik Iran.
“Operasi semacam itu akan berlangsung dalam waktu yang tidak dapat diprediksi dan menempatkan pasukan dalam risiko besar,” ujar Macron dalam pernyataannya.
Meski demikian, Macron juga menekankan bahwa dunia tidak dapat bergantung pada situasi di mana Selat Hormuz dapat dibuka atau ditutup secara tiba-tiba.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global, sehingga setiap gangguan terhadap jalur ini memiliki dampak langsung terhadap ekonomi dunia.
Pernyataan Macron mencerminkan kekhawatiran negara-negara Eropa terhadap stabilitas pasokan energi, sekaligus menunjukkan preferensi terhadap pendekatan diplomatik dalam merespons krisis di kawasan Teluk.

