Tulungagung (tutur.co.id) – Lonjakan kasus suspek campak di Kabupaten Tulungagung menjadi perhatian serius berbagai pihak. Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Dr Puguh Wiji Pamungkas, mendorong pemerintah mempercepat pelaksanaan imunisasi campak-rubella (MR) secara masif guna menekan potensi penyebaran penyakit tersebut.
Menurut Puguh, program imunisasi harus dilakukan dengan pendekatan jemput bola melalui berbagai fasilitas yang telah tersedia di masyarakat. Upaya ini dinilai penting agar cakupan vaksinasi anak dapat meningkat secara signifikan.
Ia menilai fasilitas kesehatan seperti sekolah, posyandu, hingga puskesmas dapat dimaksimalkan untuk memperluas akses imunisasi bagi masyarakat.
Kasus Suspek Campak Meningkat
Peningkatan kasus campak di Tulungagung terlihat dari data Dinas Kesehatan setempat. Dalam periode Januari hingga Februari 2026 tercatat 38 kasus suspek campak di wilayah tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Tulungagung, Aris Setiawan, menyebutkan angka tersebut meningkat tajam dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Pada awal 2025 tercatat hanya 12 kasus suspek campak, sedangkan pada awal 2026 jumlahnya meningkat menjadi 38 kasus. Lonjakan ini menjadi indikator adanya potensi penyebaran penyakit yang perlu diantisipasi sejak dini.
Puguh menilai tren peningkatan kasus tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah provinsi. Ia juga mengingatkan bahwa beberapa daerah di Jawa Timur sebelumnya pernah mengalami kejadian luar biasa (KLB) campak.
Pentingnya Koordinasi dan Pemetaan Wilayah
Untuk mengendalikan penyebaran penyakit, Puguh menekankan pentingnya koordinasi antara Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dengan dinas kesehatan di seluruh kabupaten dan kota.
Menurutnya, langkah strategis yang perlu segera dilakukan adalah melakukan pemetaan wilayah berdasarkan tingkat risiko penyebaran campak. Wilayah dapat diklasifikasikan dalam kategori zona merah, kuning, maupun hijau.
Pemetaan tersebut dinilai penting untuk mengetahui daerah dengan potensi penularan tinggi, sedang, atau rendah. Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah tingkat cakupan imunisasi di masing-masing wilayah.
Dengan data tersebut, pemerintah dapat menentukan prioritas intervensi kesehatan secara lebih tepat sasaran.
Penguatan Surveilans dan Deteksi Dini
Selain mempercepat imunisasi, Puguh juga menekankan pentingnya penguatan sistem pengawasan penyakit atau surveilans di fasilitas kesehatan.
Rumah sakit, puskesmas, hingga klinik diminta aktif memantau gejala awal campak seperti demam, ruam pada kulit, batuk pilek, serta mata merah.
Ia menilai Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur perlu mengeluarkan kebijakan atau surat edaran agar seluruh fasilitas kesehatan melakukan pemantauan secara sistematis.
Dengan sistem surveilans yang kuat, pemerintah daerah akan memiliki basis data yang lebih akurat untuk melakukan respons cepat ketika ditemukan kasus baru.
Edukasi Masyarakat Jadi Kunci
Upaya pencegahan campak juga harus disertai dengan edukasi kepada masyarakat, terutama kepada para orang tua agar tidak menunda pemberian imunisasi kepada anak.
Menurut Puguh, edukasi dapat dilakukan melalui berbagai unsur di tingkat desa, termasuk kader kesehatan, puskesmas pembantu, organisasi masyarakat, hingga lembaga swadaya masyarakat.
Pendekatan berbasis komunitas tersebut dinilai efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya vaksinasi dalam mencegah penyakit menular.
Waspada Risiko Penularan Saat Mudik
Puguh juga mengingatkan bahwa menjelang periode mudik Lebaran, mobilitas masyarakat akan meningkat signifikan. Kondisi tersebut berpotensi mempercepat penularan penyakit menular, termasuk campak.
Karena itu, masyarakat diimbau menjaga kondisi kesehatan serta memastikan anak-anak telah mendapatkan imunisasi lengkap.
Ia berharap Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui dinas kesehatan dapat segera mengambil langkah strategis dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota agar penyebaran campak dapat dikendalikan lebih cepat.
Dengan percepatan imunisasi, penguatan surveilans, serta edukasi masyarakat yang berkelanjutan, risiko peningkatan kasus campak di Jawa Timur diharapkan dapat ditekan. (sas)

