Riyadh (tutur.co.id) – Tahun ini, Arab Saudi merayakan idulfitri pada Jumat (20/3/2026), sehari lebih dulu dari masyarakat muslim di Indonesia. Tahun ini, KBRI menyatakan tidak menggelar salat id berjemaah di Riyadh karena alasan kondisi keamanan akibat konflik geopolitik antara Israel dengan Iran yang menjadi perhatian pemerintah setempat. Namun, KJRI di Jeddah tetap menggelar salat berjamaah karena wilayah ini tidak terdampak dan relatif lebih aman.
Mengutip Arabnews, Kementerian Pariwisata Arab Saudi pada libur lebaran 2026, menggelar festival seni tradisional, sejak 26 Maret-8 April 2026 di ibukota Riyadh. Festival menggelar malam puisi Nabati, menampilkan “The Story of the Sea”, sebuah pertunjukan langsung yang merekonstruksi kehidupan masyarakat pesisir serta menampilkan nyanyian laut tradisional yang dahulu digunakan untuk menyemangati para pelaut.
Dalam beberapa tahun terakhir, perayaan Lebaran di negeri ini menjelma menjadi panggung besar—di mana takbir, tradisi keluarga, dan festival seni bertemu dalam satu lanskap yang hidup dan dinamis. Idulfitri di Arab Saudi tak lagi hanya tentang khusyuknya ibadah saja, tapi juga diwarnai kegembiraan perayaan. Hanya memang tidak semeriah lebaran di Indonesia.
Pagi hari dimulai dengan salat Id. Di kota-kota seperti Riyadh dan Jeddah, ribuan orang memadati masjid dan lapangan terbuka untuk melaksanakan salat Id. Usai itu, tradisi klasik mengambil alih: silaturahmi, makan bersama, dan kunjungan antar keluarga—ritme yang tak berubah meski zaman bergerak.
Namun selepas siang, wajah Lebaran mulai bergeser. Pemerintah melalui program “Eid Season” menghadirkan beragam festival di ruang publik. Konser musik, pertunjukan teater, hingga atraksi keluarga digelar terbuka. Kota-kota besar berubah menjadi arena hiburan, menarik warga untuk merayakan Idulfitri dengan cara yang lebih luas—di luar ruang privat keluarga.
Di tengah keramaian itu, tradisi lokal tetap menemukan tempatnya. Tarian Ardah tampil dalam pawai budaya, menghadirkan gerak berirama dengan iringan musik khas. Parade jalanan, pertunjukan seni, hingga penampilan musisi lokal membuat suasana kota terasa seperti festival panjang yang tak putus.
Malam hari menjadi klimaks. Langit kota dihiasi kembang api dan pertunjukan cahaya yang memikat. Di Riyadh, pertunjukan ini menjadi magnet utama—momen yang ditunggu warga, ketika perayaan berpindah dari tanah ke langit, dari ritual ke spektakel visual.
Di sela kemeriahan modern itu, tradisi lama tetap hidup. Salah satunya adalah Al-Hawwamah—anak-anak berkeliling sambil bernyanyi, menerima permen atau hadiah dari warga. Tradisi sederhana ini menjadi penanda bahwa Lebaran tetap berakar pada kebersamaan, bukan sekadar hiburan.
Ruang publik pun berubah fungsi. Taman kota, pusat hiburan, hingga jalanan dipenuhi keluarga yang merayakan hari raya bersama. Mereka datang bukan hanya untuk menonton, tetapi untuk menjadi bagian dari perayaan itu sendiri—bermain, bercengkerama, dan menikmati atmosfer kolektif.
Di Arab Saudi, lebaran bergerak di dua kutub: khusyuk dan meriah. Dari salat berjamaah hingga festival kota, dari doa hingga dentum kembang api—semuanya menyatu dalam satu narasi besar: perayaan yang tak hanya menandai kemenangan spiritual, tetapi juga perubahan wajah budaya di ruang publik.

