Jakarta (tutur.co.id) — Eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan volatilitas harga energi global dan biaya logistik perdagangan. Namun, dampak langsung terhadap perdagangan Indonesia dinilai terbatas karena eksposur ke kawasan tersebut relatif kecil.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang diolah Indonesia Eximbank Institute, ekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2% dari total nasional, sementara impor sekitar 3,9% dan didominasi energi.
Head of Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani, mengatakan risiko utama justru datang dari jalur tidak langsung seperti kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok global.
“Kami memonitor secara cermat dinamika di kawasan Timur Tengah, termasuk keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz,” ujar Rini.
Selat Hormuz sendiri menjadi jalur vital dengan sekitar 20–30% perdagangan minyak dunia melintas di kawasan tersebut. Gangguan pasokan dapat mendorong lonjakan harga energi global dan berdampak pada biaya produksi serta logistik.
Meski Indonesia tidak langsung mengimpor minyak dari Timur Tengah, sekitar 75% impor minyak berasal dari Singapura dan Malaysia yang bergantung pada pasokan kawasan tersebut. Kondisi ini membuat Indonesia tetap terdampak secara tidak langsung.
Ke depan, harga minyak global diperkirakan bergerak di kisaran US$85–120 per barel sepanjang 2026, yang berpotensi menekan sektor manufaktur dan industri berbasis impor bahan baku.
Meski begitu, sejumlah komoditas seperti batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO) justru berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga energi global.
“Kenaikan harga komoditas energi dan agro dapat membantu menopang kinerja ekspor Indonesia dalam jangka pendek,” kata Rini.
Secara keseluruhan, ekspor Indonesia pada 2026 diproyeksikan tetap tumbuh di kisaran 4–5%, dan berpotensi meningkat menjadi 5–6% pada 2027 seiring membaiknya permintaan global.

