Dubai (Tutur.co.id) – Operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan menyasar Iran rupanya tak hanya berdampak pada pasokan minyak dunia. Larangan terbang yang diterapkan negara-negara Timur Tengah paska pecah perang plus penutupan Selat Hormuz membuat pasokan emas dan perak dunia juga terganggu.
Bukan rahasia lagi jika Uni Emirat Arab (UAE) adalah salah satu negara penghasil emas dan perak terbesar di dunia. Namun kini suplai emas dan perak mereka harus terganggu setelah pecah perang Iran kontra AS dan Israel. Terutama setelah penerbangan di Dubai banyak yang dicancel.
Menurut John Reed, Senior Market Strategist di World Gold Council, gangguan ini langsung berdampak pada harga dan distribusi emas dunia. Di India, harga emas yang sebelumnya diperdagangkan dengan diskon 50 dolar AS per ons kini sudah berada pada level paritas.
Dubai: Simpul Emas Dunia
Menurut laporan Financial Times, Dubai merupakan pusat transit logam mulia terbesar di dunia, menangani sekitar 20 persen arus emas internasional tahun lalu. Uni Emirat Arab menerima logam hasil tambang Afrika untuk diproses, sekaligus menjadi titik transit utama pengiriman dari Eropa ke Asia.
Pada 2024, Dubai tercatat sebagai eksportir emas terbesar kedua di dunia dengan nilai sekitar 60 miliar dolar AS, dengan India sebagai penerima terbesar.
Sementara itu, Swiss Confederation memimpin sebagai eksportir emas global dengan nilai lebih dari 110 miliar dolar AS, berkat fasilitas pemurnian utamanya yang menjadi pusat penyulingan emas dunia.
India dan China Paling Rentan
India, sebagai produsen perhiasan terbesar di dunia, diperkirakan menjadi pihak yang paling terdampak akibat terganggunya jalur transit Dubai. Gangguan ini berpotensi menghambat pasokan bahan baku bagi industri perhiasan domestik yang sangat bergantung pada impor emas.
Tidak hanya emas, distribusi perak juga menghadapi tantangan serius. Permintaan investor ritel China terhadap perak melonjak dalam beberapa bulan terakhir, mendorong harga dari sekitar 50 dolar AS per ons pada Oktober–November menjadi rekor 121,6 dolar AS pada 29 Januari, sebelum mengalami koreksi tajam. Persediaan perak di China kini berada di level terendah dalam satu dekade.
Batangan perak yang biasanya dibersihkan (cleared) di London dan dikirim melalui Dubai kini harus dialihkan ke rute lain. Situasi serupa juga berlaku untuk emas batangan, meskipun dampaknya tidak sebesar pada perak.
Pada perdagangan Rabu, harga spot perak di London berada di level 85,4 dolar AS per ons. Sementara emas, yang sempat menyentuh 5.595,5 dolar AS per ons pada akhir Januari, kini diperdagangkan di sekitar 5.170 dolar AS.
Volatilitas Masih Mengintai
Gangguan logistik akibat risiko militer di kawasan Teluk menunjukkan betapa rapuhnya rantai pasok logam mulia global yang sangat bergantung pada jalur udara. Jika pembatasan penerbangan berlangsung lebih lama, tekanan pada harga emas dan perak bisa terus berlanjut, memperkuat volatilitas di pasar komoditas internasional.
Dalam kondisi ketidakpastian geopolitik, emas kembali menegaskan perannya sebagai aset lindung nilai. Namun ironisnya, justru logistik fisiknya kini menjadi tantangan terbesar bagi pasar global.Arm

