Beijing (tutur.co.id) – Kecelakaan kereta yang terjadi di Bekasi beberapa waktu lalu membuat orang mulai mencari tahu berbagai hal tentang moda transportasi yang satu ini. Termasuk soal kereta tercepat yang saat ini beroperasi.
Teknologi kereta memang telah berkembang ekstrem. Namun yang menarik, tak melulu dengan status tercepat. Bahkan saat ini juga ada kereta yang memang diciptakan untuk jalan lambat. Lalu kereta apa yang saat ini menyandang status tercepat di dunia?
Saat ini, China memimpin dalam pengembangan kereta tercepat generasi terbaru. Shanghai Maglev menjadi kereta komersial tercepat dengan kecepatan maksimum mencapai 460 km/jam. Kereta ini menggunakan teknologi levitasi magnetik yang mampu melayang di atas rel tanpa gesekan.
Namun, penting dicatat bahwa kecepatan tersebut adalah batas maksimum, bukan kecepatan harian. Dalam operasional normal, Shanghai Maglev biasanya berjalan di kisaran 300 km/jam, dengan beberapa jadwal tertentu pernah mencapai lebih dari 400 km/jam. Hal ini dilakukan untuk menjaga efisiensi energi dan keselamatan operasional.
Selain itu, pengembangan kereta cepat terus berlanjut di berbagai negara. Jepang dan China masih terus berlomba menghadirkan generasi baru kereta super cepat yang lebih efisien dan stabil. Ini menunjukkan bahwa batas kecepatan kereta dunia masih terus didorong lebih jauh.
Di sisi berlawanan, ada kereta yang justru terkenal karena lajunya yang dibuat lambat. Salah satu yang paling dikenal adalah Glacier Express di Swiss, yang sering disebut sebagai “kereta ekspres paling lambat di dunia”. Perjalanan sejauh sekitar 291 kilometer ditempuh dalam waktu hampir 8 jam.
Kecepatan rata-rata kereta ini hanya sekitar 35-40 km/jam, jauh di bawah standar kereta modern. Tapi justru di situlah daya tariknya, karena perjalanan dibuat santai untuk menikmati pemandangan pegunungan Alpen. Konsep ini menunjukkan bahwa lambat bukan berarti tertinggal, tapi bagian dari pengalaman wisata.
Perbandingan ini memperlihatkan dua sisi dunia perkeretaapian global. Ada yang fokus pada kecepatan ekstrem untuk efisiensi waktu, dan ada yang mengutamakan pengalaman perjalanan. Keduanya menunjukkan bahwa kereta bukan sekadar alat transportasi, tapi juga bagian dari gaya hidup dan kebutuhan manusia.

