Manila (tutur.co.id) – Di tengah padatnya kawasan Quiapo, Manila, berdiri sebuah masjid berkubah emas yang mencuri pandang. Golden Mosque namanya. Bagi umat Islam yang hidup sebagai minoritas di Filipina, masjid ini bukan sekadar bangunan, melainkan simbol keteguhan iman dan perjalanan sejarah yang panjang.
Kubahnya yang berkilau menjadi penanda bahwa Islam telah lama hadir di negeri ini. Jauh sebelum kolonialisme Barat datang, para pedagang dan dai dari wilayah Nusantara—terutama dari Kesultanan Sulu dan Mindanao—telah membawa ajaran Islam ke selatan Filipina sejak abad ke-14. Peradaban dan komunitas Muslim telah tumbuh bahkan sebelum bangsa Spanyol tiba di Manila.
Golden Mosque berdiri pada 1976, pada masa pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos. Awalnya masjid ini dipersiapkan untuk menyambut kunjungan pemimpin Libya, Muammar Khadafi, yang akhirnya tidak terlaksana. Meski demikian, masjid ini tetap berdiri dan berkembang menjadi pusat aktivitas keagamaan umat Islam di ibu kota Filipina.
Bagi Salman Al Farisi, Dai Ambassador Dompet Dhuafa yang tengah bertugas di Filipina, kunjungan ke masjid ini menghadirkan kesan mendalam. Melalui siaran pers yang diterima Redaksi Tutur, Salman memaparkan, “Golden Mosque adalah jantung spiritual komunitas Muslim di Manila. Di sinilah azan berkumandang setiap hari, anak-anak belajar mengaji, para dai menyampaikan tausiyah, dan umat menautkan harapan dalam setiap sujud,” ujarnya pada Minggu (22/2/2026).
Ia menambahkan, masjid ini juga menjadi titik temu ukhuwah lintas bangsa, termasuk bagi diaspora Indonesia dan komunitas Muslim internasional.
Hari ini, Golden Mosque bukan hanya saksi sejarah, tetapi juga ruang hidup yang terus meneguhkan eksistensi Islam di Filipina—tenang, bertahan, dan tetap menyala di tengah keberagaman.

