Bogor (tutur.co.id) – Di tengah semakin padatnya Kota Bogor, berdiri sebuah kelenteng tua yang menyimpan jejak sejarah ratusan tahun. Kelenteng Phan Ko namanya. Kelenteng yang terletak di Kampung Pulo Geulis ini punya banyak ‘rahasia’ menarik untuk diulik.
Redaksi Tutur berkesempatan untuk mengulik lebih dalam tentang keunikan kelenteng yang satu ini. Gaya dan nuansa bangunan memang layaknya kelenteng-kelenteng pada umumnya. Namun siapa yang menyangka jika kelenteng ini menyimpan ‘rahasia’ tentang arti kerukunan beragama.
Di balik bangunannya yang sederhana, tersimpan sejarah panjang ratusan tahun yang tetap hidup hingga saat ini. Kelenteng ini tetap berdiri dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sekitar. Tidak hanya bagi warga Tionghoa, tetapi juga bagi berbagai latar belakang keyakinan.
Menurut Candra Kusuma selaku pengurus kelenteng, keberadaan Kelenteng Phan Ko sudah tercatat dalam sejarah sejak tahun 1703. Saat itu, kawasan Pulo Geulis ditemukan oleh tim ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Abraham Van Riebeck.
Menariknya, ketika ditemukan, wilayah ini sudah memiliki penduduk dan juga kelenteng. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan di kawasan tersebut telah berlangsung jauh sebelumnya.
Jika ditelusuri lebih jauh, Pulo Geulis rupanya memiliki kaitan erat dengan sejarah Kerajaan Pajajaran. Pada masa kejayaannya, wilayah ini pernah dijadikan tempat peristirahatan keluarga kerajaan.
Namun, setelah runtuhnya Pajajaran pada tahun 1579 akibat serangan Kesultanan Banten, kawasan ini sempat kosong selama hampir satu abad. Barulah kemudian wilayah ini kembali dihuni hingga berkembang seperti sekarang.
Kelenteng Phan Ko sendiri diperkirakan telah berdiri sejak abad ke-16. Bangunan awalnya tentu tidak seperti yang terlihat saat ini. Seiring berjalannya waktu, kelenteng mengalami beberapa kali renovasi, terutama pada era 1970-an. Meski demikian, nilai sejarah dan keasliannya tetap dijaga hingga sekarang.
Keunikan lain dari Kelenteng Phan Ko terletak pada konsep ibadahnya. Berbeda dengan vihara yang identik dengan agama Buddha, kelenteng lebih bersifat tradisi dan personal. Setiap orang dapat berdoa sesuai keyakinannya masing-masing. Hal ini menjadikan kelenteng sebagai ruang spiritual yang lebih inklusif.
Namun, yang dimaksud dengan ibadah personal bukan berarti tanpa arah atau mencampuradukkan keyakinan. Setiap individu tetap berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing, tanpa mengubah ajaran yang dianut.
Kelenteng hanya menjadi ruang yang memberi kebebasan untuk menghormati leluhur dan menjalankan nilai spiritual secara pribadi. Dengan demikian, konsep ini justru menekankan penghormatan terhadap perbedaan, bukan penyatuan keyakinan menjadi satu.
Di dalam area kelenteng juga terdapat berbagai petilasan tokoh penting. Beberapa di antaranya berasal dari latar belakang Islam, seperti Uyut Gebok, Mbah Sake, hingga Mbah Imam. Kehadiran ini mencerminkan adanya pertemuan nilai budaya dan spiritual dari berbagai tradisi. Semua berdampingan tanpa menghilangkan identitas masing-masing.
Selain itu, terdapat pula petilasan yang dikaitkan dengan Raden Surya Kencana, yang dipercaya sebagai raja terakhir Pajajaran. Hal ini semakin memperkuat nilai historis kawasan Pulo Geulis. Tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan jejak sejarah panjang. Nilai tersebut terus dijaga oleh masyarakat setempat.
Kelenteng dan vihara sering dianggap sama, padahal keduanya memiliki perbedaan yang cukup jelas. Kelenteng lebih berfokus pada tradisi Tionghoa, terutama dalam menghormati dewa-dewa dan leluhur, sementara vihara merupakan tempat ibadah khusus bagi umat Buddha. Meski demikian, dalam praktik di Indonesia, keduanya kadang terlihat serupa atau bahkan berada dalam satu kawasan karena adanya akulturasi budaya yang sudah berlangsung lama.
Hal ini juga dijelaskan oleh Candra Kusuma, yang menegaskan bahwa fungsi keduanya tidak sama.
“Kalau vihara itu merupakan tempat ibadahnya orang yang beragama Buddha. Sedangkan kelenteng itu tempat ibadah secara tradisi, di mana orang berdoa secara pribadi sesuai dengan keyakinannya,” ujarnya.
Penjelasan ini menunjukkan bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipahami. Meskipun kelenteng dan vihara bisa berdampingan secara fisik maupun budaya, keduanya tetap memiliki makna dan fungsi yang berbeda. Justru dari perbedaan inilah terlihat bagaimana keberagaman dapat hidup selaras tanpa harus disamakan.
Menariknya, Kelenteng Phan Ko juga dikenal sebagai salah satu kelenteng tertua di Kota Bogor. Dewa utama yang dipuja di tempat ini adalah Dewa Phan Ko, yang dalam kepercayaan Tionghoa dianggap sebagai pencipta alam semesta. Kepercayaan ini menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Hingga kini, nilai tersebut tetap dijaga oleh para pengurus.
Dengan segala nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang dimiliki, Kelenteng Phan Ko bukan sekadar bangunan tua. Tempat ini menjadi simbol bagaimana masa lalu bisa hidup berdampingan dengan masa kini.
Di Pulo Geulis, sejarah tidak hanya dikenang, tetapi juga terus dijalani dalam kehidupan sehari-hari, sehingga di tengah perkembangan kota, tempat ini tetap mengingatkan bahwa sejarah dan budaya memiliki ruang untuk hidup, dan dari situlah nilai kebersamaan terus tumbuh.

