Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal
  • Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli
  • Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026
  • Mencari Akhir yang Manis
  • Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar
  • Berikut daftar 8 lokasi Samsat Keliling di Wilayah Jabodetabek 18 Juli 2026
  • Ini Lokasi SIM Keliling Jakarta Akhir Pekan 18 Juli 2026
  • Prancis vs Inggris: Pertandingan yang Tidak Diinginkan
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Ekonomi Hijau»Jejak Karbon Personal, Solusi Kecil di Tengah Emisi Besar

Jejak Karbon Personal, Solusi Kecil di Tengah Emisi Besar

Ekonomi Hijau Alpin Pulungan10 Januari 2026 / 17:47 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Jejak karbon personal memberi dampak kecil pada total emisi global, namun berperan penting sebagai sikap moral dan tekanan konsumen terhadap industri. Foto: IG @mundjidahwahab
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) – Krisis iklim sering dibicarakan sebagai persoalan besar yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia hadir dalam grafik emisi global, laporan ilmiah, dan perundingan tingkat tinggi antarnegara. Namun di sisi lain, krisis ini juga menyusup ke ranah yang sangat personal. Dari apa yang kita makan, bagaimana kita bepergian, hingga energi yang kita gunakan setiap hari.

Peneliti di Forest Digest, Pradhipta Oktavianto, memulai pembahasannya dari titik yang kerap luput. Ia menempatkan pengurangan jejak karbon personal bukan sekadar sebagai strategi teknis, melainkan sebagai persoalan nilai. “Menurunkan jejak karbon personal bukan sekadar mencagah krisis iklim, juga krisis moral,” kata Pradhipta, dikutip dari laman Forest Digest, Sabtu, 10 Januari 2026.

Menurut Pradhipta, secara struktural, akar mitigasi krisis iklim tetap bertumpu pada sektor industri. Emisi terbesar tidak lahir dari individu, melainkan dari kegiatan ekonomi berskala besar. Namun itu tidak serta-merta meniadakan peran individu, meski konsep jejak karbon personal sendiri lahir dari kampanye industri yang mengalihkan beban tanggung jawab lingkungan kepada masyarakat.

“Satu-satunya cara mitigasi krisis iklim adalah mengurangi jejak karbon, terutama oleh industri. Namun, mengurangi jejak karbon pribadi melalui gaya hidup juga tak kurang penting, meski jejak karbon pribadi adalah keberhasilan kampanye industri mengalihkan dosa lingkungan kepada tiap orang” jelasnya.

Setiap aktivitas manusia menghasilkan emisi karbon. Pradhipta mengungkapkan rata-rata setiap orang menghasilkan jejak karbon sebesar 4,8 ton CO2 per tahun. Angka ini berasal dari berbagai sumber yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari makanan, energi, transportasi, hingga sampah.

Di dalam rumah tangga, makanan menjadi penyumbang signifikan. Sekitar 30 persen jejak karbon domestik berasal dari konsumsi pangan, dengan produk daging sebagai kontributor terbesar. Daging sebagai sumber protein hewani berasal dari sistem peternakan yang menghasilkan gas rumah kaca, baik karbon dioksida maupun metana.

Pradhipta mencatat, ternak secara keseluruhan menghasilkan 192,6 juta ton setara CO2 pada 2022. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen atau 137 juta ton berasal dari ternak sapi potong. Produk daging juga memiliki jejak karbon yang jauh lebih besar per kalori dibandingkan biji-bijian atau sayuran.

Baca Juga  Februari Lookbook: Gaya Chic & Stunning

Karena itu, perubahan pola makan menjadi salah satu intervensi personal yang berdampak besar. Beralih dari konsumsi daging ke pola makan berbasis tumbuhan dapat mengurangi jejak karbon hingga 32 persen. Bahkan jika hanya mengurangi daging merah dan menggantinya dengan daging putih, kata Pradhipta, pengurangan jejak karbon pribadi masih mencapai 24 persen.

Transportasi juga menjadi sumber emisi yang signifikan. Mengubah moda transportasi dari mobil pribadi ke kendaraan umum dapat mengurangi jejak karbon individu hingga 8 persen. Pilihan yang lebih ambisius, yakni menggunakan sepeda sepenuhnya, berpotensi menurunkan jejak karbon hingga 13 persen. Jika mobil masih menjadi pilihan utama, berbagi tumpangan atau carpooling setidaknya dapat menurunkan emisi sekitar 4 persen.

Penghematan energi di rumah turut memberi kontribusi besar. Beralih ke peralatan hemat energi dan mengurangi konsumsi listrik berdampak langsung pada penurunan emisi. Mengganti tungku minyak atau gas dengan pompa panas listrik, serta memperbaiki insulasi bangunan, dapat mengurangi jejak karbon hingga 0,9 ton CO2 per orang per tahun.

Selain itu, masih banyak langkah lain yang dapat diambil. Mengurangi penggunaan plastik, mendaur ulang, membeli produk ramah lingkungan, hingga berinvestasi pada kegiatan berkelanjutan disebut Pradhipta sebagai bagian dari upaya memangkas jejak karbon personal.

Namun, persoalan tidak sesederhana menjumlahkan semua potensi pengurangan itu. Pradhipta mengajak melihat konteks global. Pada 2023, emisi karbon dioksida global dari sektor energi mencapai 37,4 miliar ton. Dengan rata-rata jejak karbon individu sebesar 4,8 ton per tahun, kontribusi satu orang terhadap total emisi global hanya sekitar 0,000000001 persen.

“Jika tiap orang rata-rata menghasilkan jejak karbon 4,8 ton CO2 per tahun maka tiap orang berkontribusi terhadap 0,000000001% dariemisi karbon global,” katanya.

Baca Juga  5 Kebiasaan Kecil yang Diam-diam Membantu Mencegah Kanker

Persentase itu bahkan lebih kecil bagi mereka yang tinggal di negara berkembang dan tidak termasuk dalam kelompok 10 persen orang terkaya di dunia. Di sisi lain, kata Pradhipta, “Sebagian besar emisi karbon tidak dihasilkan oleh individu, melainkan oleh industri dan kegiatan komersial berskala besar.”

Merujuk laporan IPCC, Pradhipta menyebut sekitar 70 persen emisi karbon global berasal dari 100 perusahaan terbesar di dunia. Sementara itu, hanya sekitar 30 persen emisi karbon yang berasal langsung dari aktivitas individu.

Konsekuensinya jelas. Sekalipun setiap individu berhasil menurunkan emisi pribadinya hingga nol, dampak maksimal yang bisa dicapai secara global hanya sekitar 30 persen. Sisanya tetap berada di tangan industri.

Namun Pradhipta tidak berhenti pada kesimpulan matematis tersebut. Ia menegaskan peran individu tidak berhenti pada angka kontribusi emisi. Individu adalah konsumen, dan pilihan konsumsi membentuk arah pasar. Jika permintaan bergeser ke produk yang lebih ramah lingkungan, industri akan menyesuaikan diri dengan permintaan tersebut.

Selain itu, gaya hidup berkelanjutan mendorong individu lebih aktif bersuara. Kesadaran personal menjadi pintu masuk bagi tuntutan kolektif terhadap pemerintah dan perusahaan agar lebih bertanggung jawab atas emisi yang mereka hasilkan.

Pada akhirnya, pengurangan jejak karbon personal tidak semata-mata soal seberapa besar emisi yang berhasil ditekan. Ia berkaitan dengan sikap, empati, dan kesadaran akan dampak krisis iklim yang sudah berlangsung. “Gaya hidup berkelanjutan dan mengurangi jejak karbon bukan cuma soal angka penurunan emisi karbon, juga soal moral dan empati,” kata Pradhipta.

Dampak perubahan iklim bukan lagi ancaman abstrak di masa depan. Gelombang panas, kekeringan, krisis air, gagal panen, badai, dan banjir kian sering terjadi dan semakin parah. Dalam konteks inilah, pengurangan jejak karbon personal menjadi pernyataan sikap. Bukan sebagai solusi tunggal, melainkan sebagai bagian dari kesadaran kolektif menghadapi krisis yang kian nyata.

emisi karbon gaya hidup berkelanjutan jejak karbon krisis iklim perubahan iklim
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticlePDI Perjuangan Tegas Tolak Pemilihan Kepala Daerah Lewat DPRD
Next Article Tan Malaka: Kapitalisme Indonesia Lahir Cacat Sejak Awal

Berita Lainnya

Pertamina Dukung Proyek PSEL Kertamantul, Ubah Sampah Jadi Energi Listrik

17 Juli 2026 / 13:15 WIB

Budidaya Kepiting Soka Binaan Pelindo Hasilkan 958 Kilogram, Perkuat Ekonomi Masyarakat Pesisir Indramayu

16 Juli 2026 / 19:27 WIB

PT Pertamina Trans Kontinental Raih Penghargaan TJSL IDEAS 2026, Perkuat Komitmen Keberlanjutan Maritim

13 Juli 2026 / 20:02 WIB

Astra Perkuat Desa Sejahtera Astra Sumba Timur, Lestarikan Tenun Ikat dan Berdayakan Perempuan

08 Juli 2026 / 20:02 WIB

Tas Bright Gas Viral di Jakarta Fair 2026, Pertamina Bantu UMKM Naik Kelas

08 Juli 2026 / 18:56 WIB

Mengintip Desa Energi Berdikari Pertamina, Saat Energi Bersih Menumbuhkan Ekonomi Warga

07 Juli 2026 / 13:09 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Ceko vs Meksiko: Laju Kereta Cepat Dihadang Tembok Kokoh El Tri

Deba Salamah24 Juni 2026 / 18:00 WIB

BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal

18 Juli 2026 / 12:45 WIB

Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli

18 Juli 2026 / 11:50 WIB

Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026

18 Juli 2026 / 11:20 WIB

Mencari Akhir yang Manis

18 Juli 2026 / 11:00 WIB

Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar

18 Juli 2026 / 10:03 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.