Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan menghadapi tekanan pada perdagangan Kamis (11/6/2026) setelah sebelumnya mencatat reli kuat dengan kenaikan 155,72 poin atau 2,71% ke level 5.902,37. Potensi koreksi dinilai wajar setelah lonjakan tajam dalam beberapa hari terakhir, terlebih ketika sentimen global kembali memburuk akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Tekanan datang dari pasar global setelah indeks-indeks utama Wall Street ditutup melemah tajam pada perdagangan Rabu (10/6/2026) waktu setempat. Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok lebih dari 900 poin setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran. Kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik mendorong aksi jual di pasar saham global dan meningkatkan minat investor terhadap aset-aset safe haven.
Sentimen negatif tersebut juga menjalar ke kawasan Asia. Bursa saham Asia-Pasifik bergerak di zona merah pada perdagangan pagi ini sehingga berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG yang sebelumnya menikmati reli kuat berkat penguatan rupiah, kenaikan BI Rate, dan membaiknya sentimen terhadap aset domestik.
Meski IHSG berpotensi terkoreksi, sejumlah analis melihat peluang trading masih terbuka pada beberapa saham pilihan yang dinilai memiliki prospek teknikal menarik.
Dari Mandiri Sekuritas, saham yang direkomendasikan adalah Bank Central Asia (BBCA), Telkom Indonesia (TLKM), dan Fore Kopi Indonesia (FORE).
Untuk BBCA, rekomendasi yang diberikan adalah buy dengan harga penutupan Rp5.650, target harga Rp5.775, serta stop loss di Rp5.575. Sementara TLKM direkomendasikan buy dengan target harga Rp2.900 dan stop loss Rp2.790. Adapun FORE direkomendasikan buy dengan target harga Rp740 dan stop loss Rp700.
BNI Sekuritas juga masih melihat peluang akumulasi pada sejumlah saham unggulan. Selain BBCA dan TLKM, BNI merekomendasikan speculative buy pada Buana Lintas Lautan (BULL), Merdeka Battery Materials (MBMA), Barito Renewables Energy (BREN), serta Sinergi Inti Andalan Prima (INET).
BBCA direkomendasikan dibeli pada area Rp5.600-Rp5.650 dengan target jangka pendek Rp5.725-Rp5.850. TLKM menarik pada area Rp2.780-Rp2.810 dengan target Rp2.850-Rp2.920. MBMA memiliki area beli Rp468-Rp472 dengan target Rp478-Rp492. Sementara BREN direkomendasikan pada area Rp4.200-Rp4.220 dengan target Rp4.280-Rp4.370. Untuk INET, area beli berada di Rp194-Rp196 dengan target Rp198-Rp206.
Di sisi lain, MNC Sekuritas memilih pendekatan buy on weakness pada sejumlah saham yang dinilai masih memiliki potensi kenaikan setelah mengalami koreksi.
Saham Amman Mineral Internasional (AMMN) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp3.130-Rp3.280 dengan target harga Rp3.780 hingga Rp4.100. MNC memperkirakan saham ini sedang berada pada fase wave (iv) dari wave [v].
Selain itu, Astrindo Nusantara Infrastruktur (BIPI) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp135-Rp142 dengan target Rp176-Rp193. Saham ini dinilai masih berada dalam tren penguatan yang didukung peningkatan volume pembelian.
Pilihan berikutnya adalah Sanurhasta Mitra (MINA) yang direkomendasikan pada area Rp276-Rp286 dengan target harga Rp328-Rp362. Sementara Solusi Sinergi Digital (WIFI) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp1.465-Rp1.540 dengan target Rp1.735-Rp1.880.
Meskipun tekanan eksternal berpotensi memicu koreksi jangka pendek, pelaku pasar masih melihat peluang pada saham-saham yang memiliki momentum teknikal kuat. Investor tetap disarankan memperhatikan level cut loss dan manajemen risiko mengingat volatilitas pasar global masih tinggi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian arah pasar internasional.

