Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • IHSG dan Rupiah Kompak Melonjak, JP Morgan Tetap Jagokan Saham ANTM Meski Target Harga Dipangkas
  • Langkah Kemenkeu Jaga Stabilitas Fiskal dan Dukung Prioritas Nasional
  • 7 Camilan Sehat Temani Nobar Piala Dunia 2026 ala Ibu
  • Amankan Demo Hari Ini, Kepolisian Terjunkan Hampir 6 Ribu Personel
  • Presiden Jerman Tiba di Jakarta Langsung ke Istana Merdeka
  • IPO Seret, Baru Dua Emiten Melantai hingga Pertengahan 2026, Ini Penyebabnya
  • Jakarta Dikepung Empat Demo Besar, Waspada Macet
  • 8 Minuman yang Sebaiknya Dihindari Saat Perut Kosong di Pagi Hari
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Market»IPO Seret, Baru Dua Emiten Melantai hingga Pertengahan 2026, Ini Penyebabnya

IPO Seret, Baru Dua Emiten Melantai hingga Pertengahan 2026, Ini Penyebabnya

Market Gusti Tetiro15 Juni 2026 / 12:30 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Pengunjung melewati layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (25/3/2026). (Foto:Tutur/ANTARA Asprilla Dwi Adha/tom)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) – Aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di pasar modal Indonesia masih lesu hingga pertengahan 2026. PT Niramas Utama Tbk (JELI) yang dijadwalkan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 7 Juli 2026 akan menjadi emiten kedua yang mencatatkan sahamnya tahun ini.

Minimnya jumlah perusahaan yang melakukan IPO dinilai mencerminkan kondisi pasar modal yang masih menghadapi tekanan dan ketidakpastian. Padahal dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia sempat menjadi salah satu pasar IPO paling aktif di kawasan Asia Tenggara.

Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan banyak perusahaan memilih menunda rencana IPO karena menilai kondisi pasar saat ini belum mampu memberikan valuasi yang optimal.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan memilih menunda rencana melantai di bursa karena menilai momentum pasar saat ini belum ideal untuk memperoleh valuasi yang optimal,” ujar Hendra, Minggu (14/6/2026).

Menurut Hendra, terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan aktivitas IPO tahun ini berjalan lambat. Faktor pertama adalah tekanan yang terjadi di pasar saham domestik. Koreksi tajam IHSG sejak awal tahun membuat valuasi mayoritas emiten mengalami penurunan signifikan.

Dalam kondisi tersebut, perusahaan yang berencana melepas saham ke publik cenderung menahan diri agar tidak memperoleh valuasi yang dianggap terlalu rendah. Menurutnya, menunda IPO menjadi langkah yang lebih rasional dibandingkan harus menerima harga penawaran yang kurang optimal akibat sentimen pasar yang masih negatif.

Faktor kedua berasal dari perubahan perilaku investor yang kini lebih berhati-hati dalam menempatkan dana. Ketidakpastian pasar membuat investor lebih fokus menjaga likuiditas dan mengurangi eksposur terhadap instrumen berisiko tinggi.

Selain faktor pasar modal, kondisi ekonomi domestik juga menjadi pertimbangan penting. Pertumbuhan ekonomi yang belum sesuai harapan, melemahnya daya beli masyarakat, perlambatan konsumsi, serta tingginya biaya dana akibat suku bunga yang masih tinggi membuat pelaku usaha lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi.

Baca Juga  Pasar Masih Dibayangi Tekanan Global, IHSG Berpotensi Uji Level Kritis 7.000

“Investor pun mulai mempertanyakan prospek pertumbuhan laba perusahaan ke depan. Ketika ekspektasi pertumbuhan ekonomi menurun, minat investor terhadap saham-saham baru otomatis ikut berkurang sehingga membuat perusahaan memilih menunggu kondisi yang lebih mendukung sebelum masuk ke pasar modal,” kata Hendra.

Ia menambahkan, pemulihan pasar IPO sangat bergantung pada membaiknya sentimen investor, stabilisasi IHSG, pemulihan ekonomi domestik, serta kembalinya aliran dana asing ke pasar keuangan Indonesia.

“Jika faktor-faktor tersebut mulai membaik, maka perusahaan-perusahaan yang saat ini menunda IPO berpotensi kembali aktif melantai di bursa dan menghidupkan kembali pasar perdana Indonesia,” ujarnya.

Senada dengan itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai minimnya aktivitas IPO juga dipengaruhi oleh perubahan preferensi investor yang kini lebih konservatif dalam mengambil keputusan investasi.

Menurut Nafan, investor saat ini lebih tertarik pada emiten yang telah memiliki rekam jejak bisnis yang kuat, profitabilitas yang stabil, serta kemampuan membagikan dividen secara konsisten. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan pasar, saham-saham blue chip maupun aset safe haven dinilai lebih menarik dibandingkan perusahaan yang baru akan mencatatkan sahamnya di bursa.

“Fokus mereka saat ini lebih tertuju pada emiten yang sudah established, memiliki track record profitabilitas yang jelas, serta memberikan dividen yang menarik. Perusahaan yang baru akan IPO, terutama yang masih dalam fase pertumbuhan tinggi namun belum stabil secara laba, menjadi kurang menarik dibandingkan aset-aset safe haven atau saham blue chip yang sudah ada,” ujar Nafan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar perdana masih menghadapi tantangan besar pada 2026. Meski demikian, pelaku pasar berharap membaiknya kondisi ekonomi dan stabilitas pasar keuangan pada semester kedua dapat mendorong kembali minat perusahaan untuk melaksanakan IPO dan meningkatkan aktivitas penghimpunan dana melalui pasar modal.

Baca Juga  Gejolak Global Picu Kebutuhan Hedging, JFX Perkuat Peran di Pasar Berjangka
headline IHSG IPO JELI Pasar Modal
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleJakarta Dikepung Empat Demo Besar, Waspada Macet
Next Article Presiden Jerman Tiba di Jakarta Langsung ke Istana Merdeka

Berita Lainnya

IHSG dan Rupiah Kompak Melonjak, JP Morgan Tetap Jagokan Saham ANTM Meski Target Harga Dipangkas

15 Juni 2026 / 14:01 WIB

Langkah Kemenkeu Jaga Stabilitas Fiskal dan Dukung Prioritas Nasional

15 Juni 2026 / 13:49 WIB

Amankan Demo Hari Ini, Kepolisian Terjunkan Hampir 6 Ribu Personel

15 Juni 2026 / 13:32 WIB

Presiden Jerman Tiba di Jakarta Langsung ke Istana Merdeka

15 Juni 2026 / 12:48 WIB

IHSG Naik 3% Tembus 6.190, BRI Danareksa Rekomendasikan DSSA, MBMA dan DEWA

15 Juni 2026 / 09:35 WIB

5 Fakta Menarik Usai Jerman Pesta Gol 7-1 Atas Curacao di Piala Dunia 2026

15 Juni 2026 / 08:45 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Lokasi Layanan Samsat Keliling 13 Mei 2026

Galuh Parantri13 Mei 2026 / 08:23 WIB

IHSG dan Rupiah Kompak Melonjak, JP Morgan Tetap Jagokan Saham ANTM Meski Target Harga Dipangkas

15 Juni 2026 / 14:01 WIB

Langkah Kemenkeu Jaga Stabilitas Fiskal dan Dukung Prioritas Nasional

15 Juni 2026 / 13:49 WIB

7 Camilan Sehat Temani Nobar Piala Dunia 2026 ala Ibu

15 Juni 2026 / 13:37 WIB

Amankan Demo Hari Ini, Kepolisian Terjunkan Hampir 6 Ribu Personel

15 Juni 2026 / 13:32 WIB

Presiden Jerman Tiba di Jakarta Langsung ke Istana Merdeka

15 Juni 2026 / 12:48 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.