Jakarta (tutur.co.id) – Aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di pasar modal Indonesia masih lesu hingga pertengahan 2026. PT Niramas Utama Tbk (JELI) yang dijadwalkan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 7 Juli 2026 akan menjadi emiten kedua yang mencatatkan sahamnya tahun ini.
Minimnya jumlah perusahaan yang melakukan IPO dinilai mencerminkan kondisi pasar modal yang masih menghadapi tekanan dan ketidakpastian. Padahal dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia sempat menjadi salah satu pasar IPO paling aktif di kawasan Asia Tenggara.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan banyak perusahaan memilih menunda rencana IPO karena menilai kondisi pasar saat ini belum mampu memberikan valuasi yang optimal.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan memilih menunda rencana melantai di bursa karena menilai momentum pasar saat ini belum ideal untuk memperoleh valuasi yang optimal,” ujar Hendra, Minggu (14/6/2026).
Menurut Hendra, terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan aktivitas IPO tahun ini berjalan lambat. Faktor pertama adalah tekanan yang terjadi di pasar saham domestik. Koreksi tajam IHSG sejak awal tahun membuat valuasi mayoritas emiten mengalami penurunan signifikan.
Dalam kondisi tersebut, perusahaan yang berencana melepas saham ke publik cenderung menahan diri agar tidak memperoleh valuasi yang dianggap terlalu rendah. Menurutnya, menunda IPO menjadi langkah yang lebih rasional dibandingkan harus menerima harga penawaran yang kurang optimal akibat sentimen pasar yang masih negatif.
Faktor kedua berasal dari perubahan perilaku investor yang kini lebih berhati-hati dalam menempatkan dana. Ketidakpastian pasar membuat investor lebih fokus menjaga likuiditas dan mengurangi eksposur terhadap instrumen berisiko tinggi.
Selain faktor pasar modal, kondisi ekonomi domestik juga menjadi pertimbangan penting. Pertumbuhan ekonomi yang belum sesuai harapan, melemahnya daya beli masyarakat, perlambatan konsumsi, serta tingginya biaya dana akibat suku bunga yang masih tinggi membuat pelaku usaha lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi.
“Investor pun mulai mempertanyakan prospek pertumbuhan laba perusahaan ke depan. Ketika ekspektasi pertumbuhan ekonomi menurun, minat investor terhadap saham-saham baru otomatis ikut berkurang sehingga membuat perusahaan memilih menunggu kondisi yang lebih mendukung sebelum masuk ke pasar modal,” kata Hendra.
Ia menambahkan, pemulihan pasar IPO sangat bergantung pada membaiknya sentimen investor, stabilisasi IHSG, pemulihan ekonomi domestik, serta kembalinya aliran dana asing ke pasar keuangan Indonesia.
“Jika faktor-faktor tersebut mulai membaik, maka perusahaan-perusahaan yang saat ini menunda IPO berpotensi kembali aktif melantai di bursa dan menghidupkan kembali pasar perdana Indonesia,” ujarnya.
Senada dengan itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai minimnya aktivitas IPO juga dipengaruhi oleh perubahan preferensi investor yang kini lebih konservatif dalam mengambil keputusan investasi.
Menurut Nafan, investor saat ini lebih tertarik pada emiten yang telah memiliki rekam jejak bisnis yang kuat, profitabilitas yang stabil, serta kemampuan membagikan dividen secara konsisten. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan pasar, saham-saham blue chip maupun aset safe haven dinilai lebih menarik dibandingkan perusahaan yang baru akan mencatatkan sahamnya di bursa.
“Fokus mereka saat ini lebih tertuju pada emiten yang sudah established, memiliki track record profitabilitas yang jelas, serta memberikan dividen yang menarik. Perusahaan yang baru akan IPO, terutama yang masih dalam fase pertumbuhan tinggi namun belum stabil secara laba, menjadi kurang menarik dibandingkan aset-aset safe haven atau saham blue chip yang sudah ada,” ujar Nafan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar perdana masih menghadapi tantangan besar pada 2026. Meski demikian, pelaku pasar berharap membaiknya kondisi ekonomi dan stabilitas pasar keuangan pada semester kedua dapat mendorong kembali minat perusahaan untuk melaksanakan IPO dan meningkatkan aktivitas penghimpunan dana melalui pasar modal.

