Jakarta (tutur.co.id) – Pernahkah Anda mengirim chat, sudah centang dua, tapi balasannya tak kunjung datang? Awalnya biasa saja. Lima menit kemudian mulai mengecek notifikasi. Sepuluh menit kemudian membuka kembali aplikasi. Padahal bisa jadi itu hanya soal waktu. Namun, reaksi setiap orang memang berbeda.
Kira-kira, Anda termasuk tipe yang mana saat chat tidak dibalas?
Si Overthinking
Anda langsung masuk ke mode analisis. “Apakah saya salah bicara?” “Pesannya terlalu panjang?” Berbagai kemungkinan muncul dan dipikirkan berulang-ulang.
Si Santai
Anda percaya setiap orang punya kesibukan masing-masing. Tidak dibalas sekarang mungkin karena belum sempat. Anda memilih melanjutkan aktivitas tanpa banyak asumsi.
Si Pengirim Pesan Tambahan
Belum ada balasan, Anda sudah mengirim pesan kedua. “Halo?” atau “Sedang sibuk ya?” Tujuannya memastikan, meski kadang justru membuat suasana terasa canggung.
Si Penghapus Pesan
Awalnya yakin saat mengirim. Namun setelah cukup lama tanpa balasan, Anda mulai ragu dan akhirnya menghapus pesan. Setelah itu, justru muncul pertanyaan baru: sempat terbaca atau belum?
Si Pencari Validasi
Anda mengirim tangkapan layar ke teman terdekat dan bertanya, “Menurutmu kenapa belum dibalas?” Rasanya lebih tenang setelah mendengar pendapat orang lain.
Si Balas Singkat Saat Sudah Dibalas
Menariknya, ketika akhirnya chat dibalas, Anda justru menjawab singkat dan terkesan dingin. Seolah ingin menunjukkan bahwa Anda sebenarnya tidak menunggu.
Si Pura-Pura Tidak Peduli
Aktivitas media sosial tetap berjalan seperti biasa. Namun di balik itu, Anda tetap sesekali membuka aplikasi untuk memastikan belum ada pesan masuk.
Si Realistis
Anda memahami bahwa pesan singkat bukan prioritas utama semua orang. Jika memang penting, Anda akan menindaklanjuti dengan jelas. Jika tidak, Anda memilih membiarkannya tanpa beban.
Tidak dibalas chat sering kali lebih memicu asumsi daripada fakta. Padahal, bisa jadi orang tersebut memang sedang sibuk, lelah, atau belum sempat membuka pesan.
Dan jika dipikir kembali, mungkin Anda pun pernah menjadi “yang belum membalas” bagi orang lain.

