Lampung (tutur.co.id) – Pemerintah Indonesia membuka peluang kerja sama strategis dengan Toyota Motor Asia untuk investasi bioethanol. Langkah ini menjadi bagian dari percepatan transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan. Fokusnya tentu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor.
Melalui anak usaha energi terbarukan milik Pertamina, pembahasan dilakukan bersama Toyota Tsusho, perusahaan dagang utama dari Toyota Group yang berfokus pada otomotif, mesin, logam, energi, dan kimia. Proyek ini direncanakan berlokasi di Lampung yang dinilai strategis untuk pengembangan biofuel.
Kehadiran proyek ini diharapkan mendorong pertumbuhan industri energi hijau di kawasan Sumatra.
Pabrik bioethanol tersebut ditargetkan memiliki kapasitas produksi hingga 60.000 kiloliter per tahun. Jika kesepakatan tercapai, pembangunan akan dimulai pada paruh kedua 2026. Produksi diproyeksikan mulai berjalan pada 2028.
Sebagai penopang bahan baku, akan dikembangkan perkebunan sorgum seluas 6.000 hektar. Tanaman ini dipilih karena efisien dan cocok sebagai sumber bioethanol berbasis biomassa. Langkah ini juga memperkuat ekosistem energi terbarukan berbasis sumber daya lokal.
Nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai 200 hingga 300 juta dolar AS. Selain itu, Asosiasi riset Jepang yang disebut dengan Research Association of Biomass Innovation for Next Generation Automobile Fuels(raBit) turut terlibat dalam pembahasan. Kolaborasi lintas negara ini memperkuat arah pengembangan teknologi bahan bakar masa depan.
Dari sisi otomotif, bioethanol yang dihasilkan berpotensi digunakan pada kendaraan Toyota. Hal ini membuka peluang integrasi antara sektor energi dan transportasi yang lebih ramah lingkungan. Namun, pembahasan kerja sama masih berlangsung dan belum mencapai tahap final.
Pemerintah Indonesia menargetkan penerapan campuran bioethanol sebesar 10 persen dalam bensin pada 2028. Kebijakan ini menjadi langkah konkret dalam mendorong penggunaan energi terbarukan secara luas. Secara keseluruhan, proyek ini mencerminkan arah baru industri energi nasional yang lebih berkelanjutan dan kompetitif.

