Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Enggak Tercantum di LHKPN Febrie, Rumah Sentul Ternyata Milik Sang Anak
  • Review Lengkap Samsung Galaxy A27 5G: Keunggulan, Kekurangan dan Harganya
  • Tuchel Disorot Usai Inggris Tersingkir: Salah Taktik atau Mental Pemain?
  • Febrie Tak Tahu Brankas Berisi Emas Batangan dan Dolar di Rumah Sentul
  • Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir
  • Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran
  • Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet
  • Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Makro»Indef Soroti Lonjakan Belanja, Defisit APBN Januari 2026 Capai Rp54,6 Triliun

Indef Soroti Lonjakan Belanja, Defisit APBN Januari 2026 Capai Rp54,6 Triliun

Makro Gusti Tetiro24 Februari 2026 / 12:18 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman (Foto: Tutur/AI/Gusti Tetiro)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) — Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melebar menjadi Rp54,6 triliun per 31 Januari 2026. Meski pemerintah menyebut angka tersebut masih terkendali, ekonom dari Indef mengingatkan agar publik tidak hanya terpaku pada besaran defisit, melainkan juga mencermati kualitas belanja dan keberlanjutan fiskalnya.

Berdasarkan paparan Kementerian Keuangan, realisasi pendapatan negara hingga akhir Januari mencapai Rp172,7 triliun, sedangkan belanja negara telah menembus Rp227,3 triliun. Secara rasio terhadap produk domestik bruto (PDB), defisit tercatat 0,21 persen.

Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan posisi fiskal tetap berada dalam desain APBN 2026 dan berfungsi sebagai shock absorber sekaligus motor penggerak ekonomi nasional.

“Dengan dinamika yang terjadi, defisit tercatat Rp54,6 triliun atau 0,21 persen dari PDB. Angka ini masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026,” ujarnya dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Februari 2026, Senin (23/2/2026).

 

Indef: Kualitas Belanja Lebih Penting dari Angka Defisit

Namun, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menilai persoalan utama bukan pada defisitnya, melainkan struktur dan timing belanja negara.

“Secara prinsip fiskal, defisit APBN bukan persoalan selama berfungsi counter-cyclical dan memperbesar kapasitas ekonomi. Yang perlu dicermati sekarang justru kualitasnya,” kata Rizal kepada tutur.co.id, Selasa (24/2/2026).

Ia mencatat belanja negara Rp227,3 triliun pada Januari melonjak sekitar 25,7 persen secara tahunan, dengan belanja pemerintah pusat meningkat lebih dari 50 persen yoy. Kondisi ini menunjukkan adanya front-loading spending atau percepatan belanja di awal tahun.

Dalam jangka pendek, strategi tersebut memang dapat menahan perlambatan ekonomi. Namun, dengan tax ratio yang masih berkisar 10–11 persen terhadap PDB, ruang fiskal Indonesia dinilai terbatas sehingga pasar akan menilai efektivitas dan produktivitas belanja tersebut.

Baca Juga  Prabowo Ketemu Pengusaha, Ekonom: Bisnis di Indonesia Menakutkan!

Jika belanja lebih dominan pada barang dan jasa serta bantuan konsumsi, efek pengganda terhadap pertumbuhan relatif lebih kecil dibandingkan belanja yang meningkatkan kapasitas produksi.

 

Efek MBG Dinilai Temporer

Rizal juga menyoroti program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang dinilai bekerja sebagai income support dan berpotensi cepat mendorong konsumsi rumah tangga—kontributor utama PDB.

Namun, tanpa kesiapan pasokan domestik, tambahan permintaan berisiko bocor ke impor pangan atau memicu tekanan harga bahan makanan.

“Pertumbuhan yang muncul bisa bersifat front-loaded, bukan struktural. MBG baru menjadi investasi sumber daya manusia jika terhubung dengan pengadaan pangan lokal, kontrak petani dan UMKM, serta perbaikan logistik dan standar gizi,” ujarnya.

 

Risiko Pembiayaan dan Yield SBN

Dari sisi pembiayaan, percepatan belanja berarti kebutuhan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) juga lebih cepat. Hal ini berpotensi mendorong kenaikan yield dan menyerap likuiditas perbankan (crowding out), sehingga ruang kredit sektor riil bisa tertekan.

Apalagi, defisit fiskal 2025 sebelumnya telah mendekati batas 3 persen PDB. Menurut Rizal, pasar akan membaca arah kebijakan fiskal secara menyeluruh, bukan hanya angka defisit Januari.

“Isu utamanya bukan defisitnya, tetapi keberlanjutan fiskalnya,” kata dia.

Karena itu, ia menilai koreksi kebijakan bukan berarti menghentikan program, melainkan memperbaiki desainnya agar berbasis penguatan produksi domestik dan peningkatan kapasitas ekonomi jangka panjang.

belanja negara Januari 2026 defisit APBN 2026 headline INDEF kebijakan fiskal
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleBanser ‘Duduki’ PN Jaksel Kawal Mantan Menag Yaqut di Sidang Praperadilan
Next Article Kilas Balik Mantan Menag Yaqut Terendus KPK Soal Geger Korupsi Kuota Haji

Berita Lainnya

Review Lengkap Samsung Galaxy A27 5G: Keunggulan, Kekurangan dan Harganya

18 Juli 2026 / 16:04 WIB

Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir

18 Juli 2026 / 15:06 WIB

Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran

18 Juli 2026 / 14:58 WIB

Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet

18 Juli 2026 / 14:19 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar

18 Juli 2026 / 10:03 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Video: Atalia DPR Soroti Angka Pernikahan Turun: Yang Terjadi ke Saya, Bukan Jadi Contoh Ya!

Satria Eko28 Januari 2026 / 17:44 WIB

Enggak Tercantum di LHKPN Febrie, Rumah Sentul Ternyata Milik Sang Anak

18 Juli 2026 / 16:19 WIB

Review Lengkap Samsung Galaxy A27 5G: Keunggulan, Kekurangan dan Harganya

18 Juli 2026 / 16:04 WIB

Tuchel Disorot Usai Inggris Tersingkir: Salah Taktik atau Mental Pemain?

18 Juli 2026 / 16:00 WIB

Febrie Tak Tahu Brankas Berisi Emas Batangan dan Dolar di Rumah Sentul

18 Juli 2026 / 15:41 WIB

Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir

18 Juli 2026 / 15:06 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.