Jakarta (tutur.co.id) — Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia atau Indonesia National Air Carriers Association (INACA) mendesak pemerintah segera menyesuaikan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) avtur serta Tarif Batas Atas (TBA) tiket penerbangan domestik.
Desakan ini muncul seiring lonjakan harga avtur yang mulai berlaku pada periode 1–30 April 2026. Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, menyebutkan kenaikan harga avtur domestik mencapai rata-rata 70%, sementara untuk rute internasional melonjak hingga 80%, meskipun besaran kenaikan berbeda di tiap bandara.
“Kenaikan ini mengikuti harga global akibat krisis geopolitik di Timur Tengah. Karena itu, kami mendesak penyesuaian fuel surcharge dan TBA segera dilakukan,” ujar Denon dalam keterangannya, Rabu (1/4/2026).
Menurutnya, kenaikan ini sangat membebani operasional maskapai, mengingat biaya bahan bakar menyumbang sekitar 40% dari total biaya operasional penerbangan.
INACA sebelumnya mengusulkan kenaikan fuel surcharge dan TBA masing-masing sebesar 15%. Namun, dengan lonjakan harga avtur yang jauh lebih tinggi dari perkiraan, asosiasi meminta agar besaran penyesuaian kembali dihitung berdasarkan kondisi terbaru.
“Penyesuaian ini penting agar maskapai tetap dapat menjaga keselamatan penerbangan sekaligus memastikan keberlanjutan bisnis dan konektivitas transportasi udara nasional,” tambahnya.
Sebagai gambaran, harga avtur domestik di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, naik dari Rp13.656,51 per liter pada Maret 2026 menjadi Rp23.551,08 per liter pada April 2026, atau melonjak sekitar 72,45%.
Jika dibandingkan dengan tahun 2019 saat kebijakan TBA mulai diberlakukan, kenaikan harga avtur domestik bahkan telah mencapai sekitar 295%.
Sementara itu, harga avtur internasional naik dari US$0,742 per liter menjadi US$1,338 per liter, atau meningkat sekitar 80,32%. Dibandingkan dengan level tahun 2019 sebesar US$0,6 per liter, kenaikannya mencapai 223%.
Lonjakan harga energi global yang dipicu ketegangan geopolitik dinilai menjadi faktor utama di balik tekanan biaya yang kini dihadapi industri penerbangan.

