Jakarta (tutur.co.id) — International Monetary Fund (IMF) mengungkap tiga fokus utama dampak konflik Timur Tengah, khususnya perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, yakni lonjakan harga komoditas, tekanan inflasi, serta gejolak pasar keuangan global.
Direktur Departemen Komunikasi IMF, Julie Kozack, menyatakan bahwa konflik yang terjadi telah mengganggu kehidupan masyarakat sekaligus memberikan tekanan signifikan terhadap perekonomian dunia.
Salah satu dampak paling krusial berasal dari penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang memutus akses terhadap sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Kondisi ini diperparah oleh kerusakan infrastruktur energi di kawasan Teluk.
“Ini telah mengganggu produksi minyak dan gas. Ini dapat memengaruhi ekonomi global, ekonomi regional, dan ekonomi individu,” ujar Kozack.
Lonjakan Harga Komoditas Jadi Sorotan Utama
IMF mencatat harga minyak mentah mengalami kenaikan signifikan. Minyak Brent bahkan melonjak lebih dari 50% dalam sebulan dan menembus level US$100 per barel. Pada Jumat (20/3/2026), harga Brent tercatat mencapai sekitar US$112 per barel.
Gangguan distribusi tidak hanya terjadi pada energi, tetapi juga komoditas lain seperti pupuk. Hambatan logistik di Selat Hormuz meningkatkan risiko lonjakan harga pangan global.
Namun demikian, IMF menekankan bahwa dampak lonjakan harga komoditas sangat bergantung pada durasi dan intensitas konflik yang terjadi.
Tekanan Inflasi dan Risiko Kebijakan Moneter
Selain harga komoditas, IMF juga menyoroti potensi peningkatan inflasi global. Lonjakan harga energi berpotensi mendorong inflasi utama, yang kemudian memengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral di berbagai negara.
Berdasarkan data historis, IMF memperkirakan setiap kenaikan harga minyak sebesar 10% dapat mendorong inflasi global hingga 40 basis poin (bps) serta menekan pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,1% hingga 0,2%.
Dengan kata lain, konflik berkepanjangan tidak hanya mempermahal energi, tetapi juga berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.
Pasar Keuangan Global Kian Volatil
Dampak ketiga yang disorot IMF adalah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global. Sejumlah indikator menunjukkan tekanan yang semakin nyata, mulai dari penurunan pasar saham, kenaikan imbal hasil obligasi, hingga penguatan dolar AS yang diiringi pelemahan mata uang negara berkembang.
Kondisi ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik geopolitik.
“Dampak keseluruhannya akan sangat bergantung pada durasi dan intensitas konflik,” jelas Kozack.
IMF menyatakan akan memberikan pembaruan lebih komprehensif terkait dampak konflik ini dalam laporan World Economic Outlook yang dijadwalkan rilis pada April mendatang.

