Jakarta (tutur.co.id) — Dana Moneter Internasional (IMF) mengantisipasi lonjakan permintaan bantuan keuangan global seiring dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, mengatakan pihaknya telah menyiapkan dana hingga US$50 miliar untuk membantu negara-negara yang terdampak.
“Mengingat dampak limpahan dari perang, kami memperkirakan permintaan dukungan neraca pembayaran IMF dalam jangka pendek akan meningkat antara US$20 miliar hingga US$50 miliar,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
IMF juga memperingatkan bahwa krisis ini berpotensi memicu kerawanan pangan global yang dapat berdampak pada sedikitnya 45 juta orang.
Rantai Pasok Terganggu, Negara Miskin Terpukul
Konflik di kawasan tersebut telah menyebabkan gangguan serius pada rantai pasok global, khususnya energi. IMF menilai dampaknya bersifat asimetris, dengan negara berpenghasilan rendah pengimpor energi menjadi pihak yang paling terdampak.
Georgieva menyoroti kerentanan negara-negara kepulauan di Pasifik yang berada di ujung rantai distribusi energi global dan menghadapi ketidakpastian pasokan bahan bakar.
Kenaikan harga energi, kerusakan infrastruktur, serta turunnya kepercayaan pasar disebut akan menekan pertumbuhan ekonomi global dalam jangka menengah.
“Bahkan dalam skenario terbaik sekalipun, tidak akan ada pemulihan yang rapi ke kondisi sebelum konflik,” tegasnya.
Bank Dunia Pangkas Proyeksi
Senada dengan IMF, World Bank atau Bank Dunia juga merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik pada 2026.
Kepala Ekonom kawasan tersebut, Aaditya Mattoo, menyebut pertumbuhan kini diperkirakan hanya mencapai 4,2%, turun 0,1% dari proyeksi sebelumnya.
“Kami memangkas proyeksi secara moderat. Dampaknya belum dramatis, namun tetap perlu diwaspadai,” ujarnya.
Menurutnya, gangguan di sektor energi yang memicu lonjakan harga bahan bakar menjadi faktor utama perlambatan ekonomi, terutama bagi negara yang masih bergantung pada impor energi.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik dan rapuhnya gencatan senjata juga mendorong pelaku pasar dan investor untuk bersikap lebih hati-hati.
Tekanan Global Masih Berlanjut
Baik IMF maupun Bank Dunia menilai, konflik Timur Tengah tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga berpotensi menahan laju pemulihan ekonomi global.
Selama ketegangan geopolitik belum mereda secara berkelanjutan, risiko terhadap inflasi, harga energi, dan arus investasi diperkirakan tetap tinggi.

