Jakarta (Tutur.co.id) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kebakaran ladi pada pada Jumat (6/2/2026). IHSG mengakhiri sesi pertama dengan koreksi 2,83 persen ke level 7.874,42 dari sesi pembukaan 8.103,87.
Sebanyak 671 saham terkoreksi, hanya 89 saham menguat dan 57 mengalami stagnan dengan nilai traksaksi Rp10,46 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.875.
Pelemahan dipimpin sektor siklikal (-5,43%), disusul industrial (-4,70%) dan bahan baku (-4,17%), di tengah mayoritas bursa Asia yang justru menguat. Lalu sektor saham energi juga turun 3,88%, sektor saham basic susut 4,17%, dan sektor saham consumer nonsiklikal susut 1,78%.
Kondisi ini membuat tiga pekan beruntun IHSG merah merona atau berada di zona negative. Kalau di tarik dari posisi puncak pada 20 Januari lalu, pasar saham Indonesia ini sudah mengalami kontraksi nyaris 15%.
Menurut Senior Market Chartist Nafan Aji Gusta, secara teknikal IHSG diperkirakan akan mixed to lower sehingga akan uji “wave ii”. Di sisi lain, indikator Stochastics K_D dan RSI masih menunjukkan sinyal negative, disertai penurunan volume.
“Dari eksternal, adapun pelemahan data tenaga kerja AS memberikan sentimen negatif bagi investor karena adanya kekhawatiran terkait prospek pertumbuhan ekonomi semakin meningkat. Apalagi ditambah dengan penundaan jadwal perilisan US nonfarm payroll per Januari 2026 akibat US government shutdown sebelumnya,” kata Aji Gusta.
Sementara itu, setelah dinamika kebijakan interim freeze MSCI terhadap indeks saham Indonesia, akhirnya Moody’s mengubah outlook kredit Indonesia dari Stable menjadi Negative pada 5 Februari 2026, meskipun sovereign credit rating tetap di Baa2 yang merupakan level investment grade dengan risiko menengah tentunya.
Kedepannya, bila tidak terjadi downgrade pada peringkat utang Indonesia, maka diharapkan arah kebijakan fiskal dan moneter yang bersifat pro-market, peningkatan good governance demi efektivitas kebijakan, peningkatan transparansi di market, serta reformasi peran Danantara harus diperkuat.

