Jakarta (tutur.co.id) – Tekanan terhadap pasar modal Indonesia kian dalam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) telah merosot 38,22% sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) menjadi 5.342,137, menjadikannya salah satu pasar saham dengan kinerja terburuk secara global.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai kejatuhan pasar saham domestik tidak hanya dipicu oleh faktor eksternal, tetapi juga akibat distorsi likuiditas serta meningkatnya kecemasan investor terhadap prospek ekonomi dan kebijakan dalam negeri.
Menurut Nafan, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah dan regulator perlu segera menghadirkan langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan pasar.
“Ini menjadi tugas para stakeholder untuk benar-benar bisa mewujudkan ‘buy Indonesia’ yang datang secara alami, bukan karena dipaksakan atau sekadar menjadi retorika,” ujar Nafan, Senin (8/6/2026).
Ia menjelaskan investor institusi maupun investor asing umumnya mempertimbangkan kepastian hukum, prospek pertumbuhan usaha, dan potensi peningkatan nilai perusahaan sebelum menempatkan modal. Karena itu, perbaikan iklim investasi dinilai menjadi kunci untuk membalikkan sentimen pasar dari “Sell Indonesia” menjadi “Buy Indonesia”.
Pada perdagangan Senin (8/6/2026), IHSG ditutup turun 252,63 poin atau 4,52% ke level 5.342,137. Sepanjang sesi perdagangan, indeks bergerak dalam rentang 5.317,908 hingga 5.523,942.
Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 661 saham ditutup melemah, hanya 78 saham menguat, dan 78 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp21,73 triliun dengan volume perdagangan 32,52 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 2,21 juta kali. Kapitalisasi pasar juga menyusut menjadi Rp9.438 triliun.
Fundamental Emiten Masih Kuat
Meski pasar mengalami tekanan berat, Nafan menilai fundamental mayoritas emiten di BEI masih relatif solid. Kondisi ekonomi nasional juga dinilai tetap cukup tangguh dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya.
Menurut dia, sektor perbankan besar dan perusahaan konsumer masih mampu membukukan laba yang sehat di tengah berbagai tantangan ekonomi.
Namun demikian, sentimen negatif dari luar negeri dan domestik masih membebani pasar. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah arus keluar modal asing yang dipicu proses rebalancing indeks MSCI.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat turut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Nafan juga menyoroti dampak kebijakan MSCI terkait dynamic interim freeze policy yang mendorong penyesuaian terhadap saham-saham berkapitalisasi besar dengan tingkat free float rendah.
Tekanan semakin besar setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin sebagai respons terhadap kondisi global yang masih menerapkan suku bunga tinggi dalam jangka panjang (higher for longer).
Dalam kondisi tersebut, Nafan menyarankan investor mengutamakan saham-saham defensif dengan fundamental kuat dan dividen menarik melalui strategi akumulasi bertahap.
“Prinsip cash is king tetap relevan saat volatilitas tinggi. Investor juga dapat memanfaatkan instrumen pasar uang untuk menjaga likuiditas,” ujarnya.
Pilarmas: IHSG Berpeluang Turun ke 5.080
Sementara itu, Associate Director Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, memperkirakan tekanan terhadap IHSG masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.
Menurut Nico, target koreksi sebelumnya di level 5.530 telah tercapai. Setelah level tersebut ditembus, peluang penurunan menuju area 5.080 semakin besar.
“Setelah target sebelumnya tercapai, secara probabilitas sebesar 72%, IHSG berpotensi bergerak menuju level 5.080,” kata Nico.
Meski demikian, ia menegaskan arah pasar tetap bergantung pada respons pemerintah dalam memulihkan kepercayaan investor.
Menurut dia, tanpa langkah yang mampu mengembalikan keyakinan pasar, tekanan jual berpotensi membawa IHSG mendekati level psikologis 5.000 dalam waktu relatif singkat.
“Jika pemerintah tidak segera melakukan sesuatu, IHSG bisa bergerak sangat cepat menuju level 5.080. Adapun level psikologis berikutnya berada di area 5.000,” ujarnya.
Untuk jangka pendek, Nico menyarankan pelaku pasar mencermati area 5.180 hingga 5.380 sebagai rentang teknikal penting yang akan menentukan arah pergerakan indeks selanjutnya.

