Jakarta (tutur.co.id) – Lantai bursa Jakarta tengah dilingkupi suasana ambigu. Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat memamerkan ototnya dengan menguat 1,20% ke level 7,106 yang dibarengi volume pembelian tebal, para analis justru meminta investor tidak terburu-buru merayakan kemenangan. Di balik hijaunya layar monitor, tersimpan risiko koreksi teknikal yang membayangi pergerakan indeks hari ini.
Menghitung Napas di Area Resistance
Analisis MNC Sekuritas menangkap sinyal waspada melalui kacamata Elliott Wave. Meski area penguatan terdekat di 7,115 telah tertembus, posisi IHSG saat ini ditengarai masih terjebak dalam fase konsolidasi yang rawan. Jika momentum gagal dipertahankan, indeks berisiko terseret kembali ke palung 6,745-6,887.
Namun, bagi mereka yang optimis, celah penguatan masih terbuka lebar. Jika aliran modal tetap deras, IHSG berpeluang menjajal level resistance berikutnya di rentang 7,156 hingga 7,239, dengan titik support krusial yang harus dijaga di angka 6,991.
Wall Street yang Terbelah dan Diplomasi Pakistan
Dari pasar global, sentimen “panas-dingin” masih menjadi menu utama. Wall Street harus rela tertunduk lesu akibat kembali bergejolaknya harga minyak mentah. Pemicunya? Simpang siur diplomasi antara Washington dan Teheran. Di tengah ketidakpastian, muncul kabar baru bahwa Amerika Serikat telah melayangkan 15 poin rencana perdamaian melalui perantara Pakistan demi memadamkan api konflik di Timur Tengah.
Ironisnya, sektor riil Paman Sam sebenarnya sedang berada di atas angin. Data PMI manufaktur S&P Global AS melonjak ke angka 52,4 pada Maret, mengalahkan capaian bulan sebelumnya. Namun, kegairahan industri ini justru menjadi momok bagi pasar modal; manufaktur yang kuat memberi alasan bagi The Fed untuk tetap memegang kendali kebijakan moneter yang ketat. Alhasil, raksasa teknologi seperti Microsoft dan IBM terpaksa terkoreksi, menyeret Nasdaq jatuh hingga 0,8%.
Angin Segar dari Zona Euro
Berbeda nasib dengan Amerika, bursa Eropa justru tampil lebih perkasa. Indeks benchmark Stoxx 600 berbalik menguat 0,5% setelah data manufaktur zona Euro menunjukkan resiliensi yang mengejutkan. Meski dihantui ancaman kenaikan harga energi, geliat pabrik-pabrik di Eropa seolah memberi pesan bahwa ekonomi mereka belum kehilangan daya saing.
Untuk perdagangan hari ini, investor domestik disarankan tetap selektif. Di tengah volatilitas ini, beberapa saham seperti BBYB, EXCL, HRTA, MBMA, hingga sektor energi dan infrastruktur telekomunikasi tetap menjadi pilihan yang menarik untuk dicermati dalam strategi trading harian.

