Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berpeluang melanjutkan koreksi pada perdagangan Jumat (23/1/2026). Sentimen global yang mulai kondusif sempat menopang pergerakan indeks, namun secara teknikal IHSG dinilai masih berada dalam tren jangka pendek yang rentan melemah.
Pada perdagangan Kamis (22/1/2026), IHSG ditutup melemah 0,2% ke level 8.992,1 setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi. Dari sisi sektoral, saham-saham barang konsumen non-primer mencatatkan penguatan terbesar, sementara sektor energi mengalami koreksi terdalam.
Mayoritas bursa saham Asia ditutup menguat seiring meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Eropa. Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan memberlakukan tarif 10% terhadap Eropa mulai 1 Februari 2026, serta menegaskan tidak akan menggunakan kekerasan dalam upaya menguasai Greenland. Pernyataan tersebut turut mendorong penguatan indeks di kawasan Eropa yang dibuka positif, setelah Trump dan Denmark mencapai kesepakatan kerangka kerja terkait Greenland.
Phintraco Sekuritas menilai sentimen global tersebut sempat mendorong rebound IHSG. Namun, secara teknikal indeks masih ditutup di bawah moving average lima hari (MA5), sementara indikator MACD berpotensi membentuk pola death cross. “Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi dengan menguji level support di kisaran 8.850–8.950,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Kamis (22/1/2026).
Dari pasar valuta asing, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat ke level Rp16.885 per dolar AS, meski indeks dolar AS tercatat menguat. Penguatan rupiah ditopang oleh keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang mempertahankan BI Rate, serta komitmen BI untuk tidak ragu melakukan intervensi di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Pelaku pasar juga akan mencermati rilis data domestik, yakni M2 Money Supply Desember 2025 yang dijadwalkan diumumkan Jumat (23/1/2026). Sementara dari eksternal, investor menanti data inflasi Jepang Desember 2025 yang diperkirakan melambat menjadi 2,7% secara tahunan, serta keputusan Bank of Japan yang diproyeksikan mempertahankan suku bunga di level 0,75%.
Selain itu, pasar global juga akan memantau rilis data penjualan ritel dan S&P Global PMI manufaktur serta jasa dari Inggris, serta data PMI manufaktur dan jasa AS dan Michigan Consumer Sentiment final Januari 2026.
Untuk perdagangan Jumat (23/1/2026), Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham untuk strategi trading jangka pendek, yakni ISAT, KLBF, TLKM, AALI, dan ASRI.

