Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berada dalam fase koreksi pada perdagangan Kamis (9/7/2026) setelah gagal menembus level psikologis 6.000. BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan pergerakan indeks berada pada kisaran 5.730-6.000 dengan merekomendasikan tiga saham yang layak dicermati, yakni AKRA, ELSA, dan PGAS.
Dalam riset hariannya, BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan bahwa sentimen pasar masih dibayangi meningkatnya ketidakpastian global menyusul berakhirnya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut berpotensi kembali memicu sikap risk-off di kalangan investor.
Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga akan mencermati arah pergerakan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, serta arus dana asing yang dinilai menjadi penentu utama pergerakan IHSG dalam jangka pendek.
Secara teknikal, IHSG dinilai masih berada dalam tekanan setelah gagal mempertahankan penguatan di atas level 6.000.
“Secara teknikal, IHSG berpotensi melanjutkan koreksi setelah gagal menembus area 6.000, dengan support di 5.805. Selama belum mampu kembali ke atas level psikologis tersebut, tekanan jual diperkirakan mendominasi pergerakan IHSG,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya.
Sentimen eksternal juga datang dari bursa saham Amerika Serikat yang ditutup bervariasi pada perdagangan sebelumnya. Indeks Dow Jones turun 1,09 persen, diikuti pelemahan S&P 500 sebesar 0,28 persen. Sementara itu, Nasdaq masih mampu menguat tipis 0,20 persen berkat penguatan saham-saham teknologi.
Di tengah potensi volatilitas pasar, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan akumulasi pada tiga saham berikut:
AKRA dengan target harga Rp1.345-Rp1.370.
ELSA dengan target harga Rp630-Rp655.
PGAS dengan target harga Rp1.455-Rp1.485.
Pada perdagangan Rabu (8/7/2026), IHSG ditutup melemah tajam 113,13 poin atau 1,89 persen ke level 5.873. Pelemahan tersebut diiringi aksi jual bersih (net sell) investor asing sebesar Rp689,33 miliar.
Meski demikian, investor asing masih membukukan pembelian bersih pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama BBCA senilai Rp251,89 miliar, TLKM Rp41,05 miliar, dan BRPT sebesar Rp33,30 miliar.
Tekanan terhadap IHSG dipicu pelemahan hampir seluruh sektor. Sektor material dasar memimpin penurunan dengan koreksi 4,35 persen, disusul sektor properti 2,68 persen, konsumer primer 2,50 persen, energi 1,55 persen, serta teknologi 0,68 persen. Di sisi lain, sektor kesehatan menjadi satu-satunya sektor yang mencatatkan kenaikan sekitar 1 persen.
Sementara itu, sejumlah saham berkapitalisasi kecil masih mencuri perhatian pasar dengan mencatatkan kenaikan hingga menyentuh batas auto reject atas (ARA). Saham JECX melonjak 25 persen ke Rp1.950, JELI naik 24,89 persen menjadi Rp1.405, MMIX menguat 24,51 persen ke Rp635, dan BACH bertambah 24,43 persen menjadi Rp550.

