Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot tajam pada perdagangan Rabu (24/6/2026). Indeks kehilangan 3,56% atau 217 poin ke level 5.883,88 setelah sempat bergerak di zona hijau pada awal sesi perdagangan.
Koreksi tersebut sekaligus menyeret IHSG kembali ke bawah level psikologis 6.000 dan memperpanjang tekanan yang membayangi pasar saham domestik dalam beberapa hari terakhir.
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan pelemahan pasar masih dipengaruhi oleh respons investor terhadap hasil MSCI Annual Market Classification Review yang diumumkan pekan ini.
Menurut Herditya, meskipun MSCI tetap mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market, terdapat sejumlah catatan yang masih menjadi perhatian investor global.
“MSCI memang masih menetapkan Indonesia sebagai Emerging Market, namun terdapat sejumlah catatan seperti transparansi kepemilikan saham, validitas free float, serta indikasi coordinated trading,” ujarnya.
Selain faktor MSCI, tekanan juga datang dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Pada perdagangan Rabu, rupiah berada di kisaran Rp17.997 per dolar AS, mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Herditya menjelaskan pelemahan rupiah terjadi seiring penguatan indeks dolar AS (DXY) yang dipicu kekhawatiran pasar terhadap sikap Federal Reserve yang diperkirakan masih mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Pandangan serupa disampaikan Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang. Menurutnya, minimnya katalis positif domestik membuat pasar lebih fokus pada berbagai catatan yang disampaikan MSCI terhadap pasar modal Indonesia.
Alrich menilai ketidakpastian masih akan berlanjut karena MSCI berencana terus memantau implementasi reformasi pasar modal Indonesia hingga November 2026.
“MSCI masih akan memonitor efektivitas reformasi pasar modal Indonesia. Jika hingga November 2026 tidak ada perubahan signifikan, terdapat peluang penurunan status menjadi Frontier Market,” ujarnya.
Dari sisi teknikal, Alrich menilai kondisi IHSG masih cukup rentan setelah menembus level psikologis 6.000. Indikator MACD menunjukkan pelemahan momentum, sementara stochastic RSI membentuk death cross di area overbought yang mengindikasikan potensi tekanan lanjutan.
Dengan kondisi tersebut, IHSG dinilai masih berpeluang menguji area support berikutnya di kisaran 5.750.
Meski demikian, Herditya melihat peluang terjadinya technical rebound pada perdagangan Kamis (25/6/2026), meskipun ruang penguatannya diperkirakan masih terbatas.
Menurut dia, level support IHSG berada di area 5.850, sedangkan resistance terdekat berada pada kisaran 5.930.
Di tengah tingginya volatilitas pasar, MNC Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang layak dicermati pelaku pasar, yakni BREN dengan rentang target Rp4.100-Rp4.920, INCO di kisaran Rp5.500-Rp5.925, serta MBMA pada level Rp565-Rp605.
Pergerakan IHSG dalam jangka pendek diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi perkembangan sentimen eksternal, arah rupiah, serta respons investor terhadap agenda reformasi pasar modal yang menjadi sorotan MSCI. Dengan demikian, pasar masih berada dalam fase konsolidasi dengan tingkat volatilitas yang relatif tinggi.

