Jakarta (tutur.co.id) — Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil secara wholesales pada Januari 2026 mencapai 66.447 unit, naik 7% secara tahunan (year-on-year/YoY). Kenaikan ini menjadi sinyal perbaikan dibandingkan kinerja sepanjang 2025 yang masih mencatat kontraksi 7% YoY.
Meski tumbuh secara tahunan, penjualan mobil secara bulanan turun 29% (month-to-month/MoM), seiring normalisasi permintaan setelah periode akhir tahun. Realisasi Januari tersebut setara dengan 7,8% dari target penjualan mobil 2026 yang dipatok Gaikindo sebesar 850.000 unit.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) memperkirakan konsumsi domestik tetap terjaga pada awal tahun. BI memproyeksikan penjualan ritel Januari 2026 tumbuh 7,9% YoY, meskipun secara bulanan diperkirakan terkontraksi 0,6% MoM akibat normalisasi belanja masyarakat pasca Natal dan Tahun Baru.
Kontraksi bulanan tersebut lebih moderat dibandingkan Januari 2025 yang terkontraksi hingga 4,7% MoM.
Pada Desember 2025, penjualan ritel tercatat tumbuh 3,5% YoY dan 3,1% MoM, melambat dibandingkan November 2025 yang mencapai 6,3% YoY dan 1,5% MoM. Realisasi tersebut juga sedikit di bawah proyeksi BI sebelumnya.
BI Buka Ruang Pangkas Suku Bunga
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan pihaknya masih melihat ruang untuk menurunkan suku bunga acuan BI Rate, seiring inflasi yang tetap rendah dan kebutuhan menjaga pertumbuhan ekonomi.
“Kami masih melihat ruang untuk menurunkan suku bunga acuan lebih lanjut,” ujar Destry, Selasa (10/2/2026).
Menurutnya, pelonggaran moneter dapat dilakukan jika inflasi tetap terkendali dan nilai tukar rupiah stabil. Namun, BI juga mencermati risiko eksternal, terutama ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat di bawah kepemimpinan baru The Fed.
Berdasarkan survei Bloomberg pada Januari 2026, konsensus memperkirakan BI Rate akan dipangkas 25 basis poin menjadi 4,5% pada akhir kuartal II 2026.
Kinerja penjualan mobil versi Gaikindo dan proyeksi pertumbuhan ritel dari BI menunjukkan bahwa konsumsi domestik masih menjadi penopang utama perekonomian Indonesia pada awal 2026, meski dibayangi tantangan eksternal dan dinamika suku bunga global.

