Jakarta (tutur.co.id) – Pemerintah bersiap mengeksekusi enam proyek hilirisasi strategis dengan nilai investasi sekitar US$6 miliar atau setara Rp100,8 triliun (kurs Rp16.800 per dolar AS). Proyek-proyek tersebut kini tinggal menunggu keputusan dari Danantara sebagai entitas pengelola investasi nasional.
Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Sekretaris Satuan Tugas (Satgas) Hilirisasi dan Ketahanan Energi, Ahmad Erani Yustika, mengatakan keenam proyek tersebut merupakan bagian dari 18 proyek hilirisasi yang sebelumnya telah melalui tahap pra-feasibility study (pra-FS).
“Satgas Hilirisasi dan Ketahanan Energi sudah menyampaikan pra-FS dari 18 proyek hilirisasi. Dari situ, Presiden meminta agar proyek-proyek tersebut segera dieksekusi,” tutur Erani di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Namun, sebelum seluruh proyek dijalankan, Danantara masih memerlukan kajian lanjutan untuk menentukan proyek mana yang paling siap dieksekusi dalam waktu dekat. Dari hasil penilaian awal tersebut, enam proyek dinilai berpeluang segera direalisasikan.
Erani menjelaskan bahwa keputusan final terkait proyek mana saja yang akan dijalankan, serta jadwal pelaksanaannya, masih belum ditetapkan. Hal ini lantaran proses pembahasan antara Satgas Hilirisasi dan Danantara belum berlangsung.
“Dari 18 proyek itu, ada sebagian yang akan dieksekusi lebih dulu. Tetapi detail enam proyek tersebut dan waktunya kapan, sampai sekarang belum ada informasi lebih lanjut,” kata Erani.
Ia menambahkan, Ketua Satgas Hilirisasi dan Ketahanan Energi yang juga Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, sebelumnya berencana menggelar pertemuan dengan pihak Danantara untuk membahas kelanjutan proyek-proyek tersebut. Namun, agenda tersebut belum terlaksana.
“Pertemuan yang direncanakan minggu lalu belum terlaksana karena Pak Rosan masih berada di luar negeri. Jadi memang belum ada perkembangan terbaru terkait enam proyek itu maupun proyek hilirisasi lainnya,” ujarnya.
Pemerintah menempatkan hilirisasi sebagai strategi kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat struktur industri nasional, serta mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Proyek-proyek hilirisasi yang masuk dalam daftar prioritas umumnya mencakup sektor mineral, energi, dan bahan baku strategis yang dinilai memiliki dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Ke depan, kepastian keputusan dari Danantara diharapkan dapat mempercepat realisasi proyek hilirisasi tersebut, sekaligus menjadi sinyal kuat bagi investor mengenai komitmen pemerintah dalam mendorong industrialisasi berbasis sumber daya alam.

