Jakarta (tutur.co.id) – Pengalaman panjang Muhammadiyah di lapangan kebencanaan akhirnya mendapat pengakuan di tingkat global. Di tengah kebutuhan respons cepat saat bencana kian kompleks, organisasi ini kini tercatat memiliki tim medis darurat yang telah memenuhi standar Organisasi Kesehatan Dunia.
Pengakuan itu disampaikan langsung oleh Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin saat menghadiri peluncuran Program Studi Kedokteran Universitas Muhammadiyah Magelang di Jawa Tengah, Kamis (8/1). Dalam kesempatan tersebut, Budi menyebut bahwa Muhammadiyah telah memiliki Emergency Medical Team atau EMT yang berstandar internasional.
“Saya jadi ingat, EMT Muhammadiyah sudah memenuhi standar WHO, bahkan yang pertama di Indonesia,” kata Budi dikutip dari laman kemkes.go.id, Senin, 12 Januari 2026.
Pernyataan itu menegaskan posisi Muhammadiyah sebagai salah satu aktor penting dalam penguatan sistem kesehatan darurat nasional. EMT sendiri merupakan tim medis terlatih yang bertugas memberikan layanan kesehatan langsung di lokasi bencana, mulai dari triase, perawatan darurat, hingga layanan medis lanjutan dalam situasi krisis.
Tim ini disiapkan untuk bekerja secara cepat dan terkoordinasi, mengikuti standar internasional yang ditetapkan oleh World Health Organization. Kehadiran EMT menjadi krusial, terutama ketika fasilitas kesehatan konvensional terdampak atau tidak mampu menjangkau wilayah bencana.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan pengakuan ini tidak datang secara tiba-tiba. Ia mengingatkan kembali pengalaman Muhammadiyah dalam mengelola layanan medis pada masa-masa krisis, termasuk saat pandemi COVID-19.
“Kami menyiapkan 25 rumah sakit untuk menghadapi keadaan, dan pada akhirnya 86 rumah sakit Muhammadiyah terlibat dalam layanan medis, saat banyak rumah sakit lain ketakutan menangani kondisi pada masa covid,” ujar Haedar.
Jejak pengembangan EMT Muhammadiyah sendiri telah dimulai sejak 2007. Pada fase awal, inisiatif ini dikenal dengan nama Disaster Medical Committee atau DMC, sebelum kemudian berkembang menjadi Emergency Medical Team yang terstruktur dan terstandarisasi.
Dalam perjalanannya, EMT Muhammadiyah berada di bawah koordinasi Muhammadiyah Disaster Management Center, lembaga di bawah Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang fokus pada penanggulangan bencana. MDMC berperan mengintegrasikan sumber daya kesehatan, relawan, dan rumah sakit Muhammadiyah dalam satu sistem respons kebencanaan.
Keberadaan EMT ini menjadi bagian dari kontribusi Muhammadiyah dalam mendukung sistem penanganan bencana nasional, terutama dalam aspek layanan kesehatan darurat. Dengan standar WHO, tim ini tidak hanya diharapkan mampu bekerja di dalam negeri, tetapi juga berpotensi terlibat dalam misi kemanusiaan lintas negara.
Pengakuan dari pemerintah ini sekaligus memperlihatkan bahwa peran organisasi masyarakat dalam sistem kesehatan nasional tidak lagi bersifat pelengkap semata. Dalam konteks bencana, mereka justru menjadi garda depan yang kerap lebih dulu hadir ketika negara membutuhkan tangan tambahan di lapangan.

