Jakarta (Tutur.co.id) – President Commissioner sekaligus Director of Content Tutur Media Digital, Don Bosco Selamun, mengisahkan perjalanan awal berdirinya platform tersebut yang dimulai pada 2 Januari 2026. Ia menyebut, meski telah diluncurkan sejak awal tahun, pengembangan Tutur baru dilakukan secara lebih serius pada Februari.
Dalam pandangannya, Tutur tidak sekadar menjadi media penyampai informasi, melainkan sebuah fondasi berpikir dan praktik jurnalistik. “Bertutur” dimaknai sebagai proses menyampaikan informasi secara jernih, mendengar secara utuh, serta merawat akal sehat di tengah derasnya arus informasi digital.
Don Bosco menilai, kebutuhan publik saat ini telah melampaui sekadar informasi. Masyarakat, menurutnya, kini mencari makna—bukan hanya opini, tetapi perspektif yang mampu mendorong pemahaman yang lebih baik.
“Kami percaya yang dibutuhkan hari ini bukan hanya informasi, tetapi makna. Itu yang ingin kami hadirkan dari Tutur Media Digital,” ujar dalam acara Tutur Economic Dialogue 2026 di Hotel Le Meridien, Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Ia juga menyoroti kondisi ekosistem media yang semakin padat dan beragam, dengan latar belakang, tujuan, serta kepentingan yang berbeda-beda. Dalam situasi tersebut, ia menegaskan pentingnya menjadi pembeda agar tidak tenggelam dalam keramaian.
“Kalau kamu ada di sebuah kerumunan, kamu harus menjadi pembeda. Tidak sekadar ada. Kalau hanya ada, orang tidak akan mengenal dan tahu kamu,” kata Don Bosco.
Ia mengibaratkan posisi media dalam sebuah “frame” yang harus tepat yakni tidak terlalu jauh hingga keluar dari perhatian, namun juga tidak sekadar mengikuti arus tanpa identitas.
Di tengah tantangan era digital, terutama ketika batas antara informasi valid, hoaks, dan konten berbasis kecerdasan buatan semakin kabur, Tutur berupaya memperkuat kualitas dan kredibilitas sebagai fondasi utama.
Upaya tersebut dilakukan melalui proses yang berkelanjutan, dengan terus mengembangkan gagasan dan menjaga standar jurnalistik. Don Bosco berharap, pendekatan ini dapat menjadikan Tutur sebagai media yang dipercaya dan diandalkan oleh masyarakat.
“Pada akhirnya, orang akan mencari yang benar dan bisa dipercaya. Itu naluri semua orang,” ujarnya.
Seiring berkembangnya tren konsumsi informasi, ia melihat bahwa publik kini semakin tertarik pada konten yang memiliki nilai dan makna. Di sinilah Tutur mencoba mengambil peran dengan menyediakan perspektif yang tidak hanya informatif, tetapi juga relevan dan bermakna.
Dengan konsistensi pada kualitas dan kredibilitas, Tutur Media Digital berupaya menempatkan diri sebagai rujukan di tengah riuhnya informasi, sebuah ruang bagi publik untuk menemukan kejelasan di antara berbagai suara.

