Jakarta (tutur.co.id) — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan kesiapan bergabung dalam ekosistem Biomedical Genome Science Initiative (BGSI) yang diinisiasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat riset genomika nasional guna mendukung layanan kesehatan yang lebih presisi dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
Kepala BRIN Arif Satria menegaskan lembaganya memiliki infrastruktur riset yang memadai di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, untuk mendukung pengembangan riset genomika dalam kerangka BGSI.
“Pada prinsipnya, sekali lagi BRIN ingin membangun sinergi dalam ekosistem BGSI ini. Tentu kami mohon arahan Pak Menkes terkait arah riset kesehatan ke depan,” ujar Arif dalam seminar di Jakarta, seperti dilansir Antara, Kamis (12/02/2026).
Didukung Fasilitas Genomika Berstandar Tinggi
Arif memaparkan, BRIN memiliki lima mesin genome sequencing, high-performance computer (HPC), laboratorium good manufacturing practice (GMP) vaksin, laboratorium biosafety level-3 (BSL-3), hingga laboratorium Cryo-EM yang diklaim sebagai salah satu yang tercanggih di Asia Tenggara.
Menurut dia, fasilitas tersebut terbuka bagi kolaborasi lintas institusi, termasuk peneliti Kemenkes, perguruan tinggi, hingga mahasiswa.
“Kita open platform, terbuka untuk profesor, mahasiswa, periset, dan peneliti Kemenkes untuk terlibat dalam riset-riset kita,” katanya.
Untuk menopang proyek riset, BRIN juga mengembangkan Indonesia Nucleotide Archive (Inna), yakni repositori sekuens nukleotida dengan metadata berstandar global yang terintegrasi dengan infrastruktur penyimpanan BRIN.
Fokus Surveilans Genomik dan Biomarker
Dalam ekosistem BGSI, BRIN akan berperan sebagai pengembang genomic surveillance untuk penyakit infeksi emerging dan re-emerging, seperti influenza, virus nipah, tuberkulosis, serta resistensi antimikroba (AMR).
Selain itu, BRIN juga mendorong pengembangan riset biomarker berbasis karakteristik genetik populasi Indonesia untuk memprediksi potensi penyakit di masa depan.
“Kalau kita mampu memprediksi penyakit-penyakit masa depan, itu akan sangat baik. Dan tentu kita harus mengacu pada pendekatan One Health, karena sumber penyakit masa depan banyak terkait zoonosis,” ujar Arif.
Pendekatan One Health menekankan keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam mencegah serta mengendalikan penyakit.
Pemerintah Bentuk Konsorsium Riset
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyampaikan pemerintah akan membentuk konsorsium riset untuk memperkuat implementasi BGSI, khususnya dalam menangani penyakit yang kompleks dan memerlukan pendekatan presisi.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa penguatan riset genomika menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan publik sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Menurut Budi, teknologi BGSI memungkinkan pemeriksaan kesehatan dan tindak lanjut medis yang lebih personal sesuai karakteristik genetik masing-masing individu.
Kolaborasi lintas kementerian dan lembaga ini diharapkan mempercepat transformasi sistem kesehatan berbasis data dan teknologi genomik di Indonesia.

