Wina (tutur.co.id) — Pernyataan penting datang dari kepala pengawas nuklir dunia. Direktur Jenderal Rafael Grossi dari International Atomic Energy Agency (IAEA) menegaskan bahwa program nuklir Iran tidak bisa dihentikan melalui kekuatan militer.
Dalam wawancaranya dengan The Economist, Grossi menyampaikan penilaian teknis yang berseberangan dengan narasi sebagian pihak yang mendorong solusi militer. “Program nuklir Iran tidak dapat dihentikan dengan cara militer,” ujarnya.
Lebih jauh, Grossi juga menekankan bahwa hingga kini tidak ada bukti adanya upaya sistematis Iran untuk membuat senjata nuklir.
Penilaian ini sejalan dengan temuan IAEA sebelumnya yang menyebut bahwa meskipun Iran memiliki program nuklir yang besar, tidak ditemukan program terstruktur untuk produksi senjata nuklir.
“Kami tidak melihat adanya upaya sistematis untuk weaponization (pembuatan senjata),” kata Grossi.
Salah satu narasi yang sering beredar adalah bahwa Iran hanya tinggal “beberapa minggu atau bulan” dari memiliki bom nuklir. Namun Grossi membantah klaim tersebut.
“Iran tidak pernah berada dalam hitungan minggu atau bulan dari memiliki bom nuklir,” ujarnya.
Pernyataan ini penting karena menjadi kontra terhadap argumen yang sering digunakan untuk membenarkan tindakan militer.
Grossi menjelaskan bahwa program nuklir Iran bersifat luas dan telah dibangun selama puluhan tahun. Bahkan jika fasilitas dihancurkan, pengetahuan dan kapasitas teknis tetap ada.
Analisis lain juga menunjukkan bahwa sebagian infrastruktur nuklir Iran—terutama yang berada di bawah tanah—tidak bisa sepenuhnya dihancurkan oleh serangan
Dengan latar tersebut, pesan utama IAEA menjadi jelas: solusi militer tidak cukup. Grossi berulang kali menekankan bahwa satu-satunya jalan realistis adalah negosiasi dan diplomasi jangka panjang.
“Kita harus kembali ke negosiasi. Itu satu-satunya cara untuk memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir,” tegasnya.

