Jakarta (tutur.co.id) — Aksi jual emas oleh bank sentral kembali terjadi, kali ini dilakukan oleh Bank Sentral Venezuela, dengan pelepasan cadangan emas sekitar 6 ton dalam setahun terakhir sebagai upaya mengatasi kekurangan pasokan dolar AS dan tekanan ekonomi di negara itu. Originalitas laporan ini muncul dari catatan keuangan resmi bank sentral yang dipublikasikan secara daring, di mana penjualan ini sebagian besar diperkirakan berlangsung pada Desember 2025, menurut analis setempat.
Langkah ini terjadi di tengah pembatasan ekspor minyak Venezuela oleh pemerintahan Presiden Nicolás Maduro, yang diperketat oleh sanksi dan pembatasan dari Amerika Serikat. Pembatasan tersebut telah mempersempit aliran dolar AS ke negara tersebut, memperburuk kesenjangan nilai tukar resmi dan pasar paralel, serta meningkatkan risiko hiperinflasi yang sudah menjadi masalah kronis dalam beberapa tahun terakhir.
Walaupun melakukan penjualan emas berskala besar, total nilai cadangan aset bank sentral Venezuela tercatat justru tumbuh sekitar 30% dalam dolar pada 2025 karena lonjakan harga emas dunia sepanjang tahun lalu, sehingga sebagian atas nilai cadangan yang tersisa meningkat meski volumenya berkurang.
Dalam dua belas tahun terakhir, cadangan emas Venezuela terus menyusut lebih dari 80%, mencerminkan tekanan ekonomi berat yang dihadapi pemerintah Caracas. Penurunan ini mencerminkan strategi yang dipaksakan oleh kondisi fiskal yang sulit, bukan sebagai bagian dari tren akumulasi emas yang terjadi di banyak negara lain.
Penjualan cadangan emas oleh bank sentral Venezuela menjadi indikator penting bagaimana negara-negara yang dilanda krisis likuiditas dapat mengorbankan aset strategis demi memenuhi kebutuhan dana jangka pendek, termasuk kebutuhan impor serta stabilisasi nilai tukar dan neraca pembayaran.

