Tangerang (Tutur.co.id) – Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Bandara Internasional Soekarno-Hatta kembali menerapkan standar kesehatan bagi pelaku perjalanan luar negeri sebagai langkah antisipasi terhadap potensi penyebaran hantavirus. Kebijakan itu dilakukan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan kasus penularan hantavirus yang menyebabkan tiga penumpang kapal pesiar meninggal dunia.
Kepala BBKK Bandara Soekarno-Hatta Naning Nugrahini mengatakan pihaknya telah meningkatkan kesiapsiagaan melalui pemeriksaan kesehatan penumpang internasional sejak tiba di bandara.
“Kami di Soekarno-Hatta sudah melakukan kesiapsiagaan. Yang pertama adalah melalui isian deklarasi kesehatan di aplikasi SatuSehat. Dari situ kita nanti akan tahu risiko daripada pesawat itu, ada orang berisiko atau tidak,” kata Naning di Tangerang, Senin (10/5/2026).
Selain melalui deklarasi kesehatan digital, BBKK juga melakukan pengamatan tanda dan gejala penyakit menggunakan thermal scanner serta observasi visual terhadap penumpang yang datang dari luar negeri.
“Yang kedua, begitu turun, itu ada pengamatan tanda dan gejala melalui thermal scanner dan observasi visual,” ujarnya.
Naning menjelaskan apabila ditemukan penumpang dengan gejala yang mengarah pada infeksi hantavirus, petugas akan melakukan pemeriksaan lanjutan oleh dokter sebelum dirujuk ke rumah sakit rujukan penyakit infeksi.
“Kalau dari pemeriksaan memang yang bersangkutan itu probable, maka kami rujuk ke rumah sakit pusat infeksi untuk melakukan penanganan lebih lanjut. Di situ nanti akan bisa diisolasi atau dilakukan pemeriksaan laboratorium,” katanya.
Untuk mendukung penanganan tersebut, Bandara Soekarno-Hatta juga menyiapkan jalur khusus evaluasi penyakit menular dan ambulans khusus dengan sistem dekontaminasi guna mencegah penularan lebih lanjut selama proses evakuasi pasien.
“Kemudian kami juga punya namanya ambulans khusus penyakit menular. Karena orang yang kita bawa ini, yang mau kita rujuk ini adalah orang dengan penyakit menular,” ujar Naning.
Ia menambahkan ambulans tersebut dilengkapi sistem dekontaminasi untuk memastikan virus, bakteri, maupun kuman tidak menyebar kepada petugas ataupun masyarakat lain.
Saat ini BBKK Soekarno-Hatta memperketat pengawasan terhadap penerbangan langsung dari empat negara yang telah melaporkan kasus hantavirus, yakni Amerika Serikat, Argentina, Uruguay, dan Panama. Namun, pengawasan dapat diperluas apabila ditemukan kasus baru di negara lain.
“Jadi kami melakukan pengetatan pengawasan terhadap negara-negara yang sudah menemukan atau teridentifikasi ada virus Hanta, seperti Amerika Serikat, Argentina, Uruguay, dan satu lagi Panama,” kata Naning.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan meminta masyarakat tidak panik namun tetap waspada terhadap potensi penyebaran hantavirus di Indonesia. Pemerintah menyatakan hingga saat ini belum ditemukan bukti penularan lokal virus tersebut di dalam negeri.

