Washington (tutur.co.id) – Amerika Serikat (AS) menerapkan aturan baru untuk para sopir truk. Yang paling menghebohkan adalah aturan harus fasih Bahasa Inggris. Pasalnya, hal itu membuat banyak sopir truk yang kehilangan pekerjaan mengingat banyaknya sopir truk di AS yang berstatus imigran dan punya kemampuan Bahasa Inggris yang terbatas.
Dilansir dari TerraTern, Senin 4 Mei 2026, tujuan utama aturan ini adalah demi untuk keselamatan berlalu lintas. Harapannya dengan pemahaman Bahasa Inggris yang baik tentu akan mengurangi risiko kecelakaan di jalan. Dengan kata lain, pemerintah ingin memastikan pekerjaan sopir truk ini diisi orang yang benar-benar kompeten.
“Mencegah risiko-risiko dari sopir-sopir yang tidak bisa membaca tanda rambu-rambu,” kata Sekretaris Transportasi, Sean Duffy.
Pernyataan ini menegaskan bahwa kemampuan bahasa dianggap krusial termasuk bagi para pekerja di belakang kemudi. Terutama dalam membaca rambu-rambu dan dalam rangka memahami kondisi jalan. Nah hal inilah yang menjadi dasar utama kebijakan baru tersebut diterapkan.
Dampak dan Kontroversi
Ya, kebijakan baru ini memang telah menimbulkan kontroversi besar di Negeri Paman Sam. Banyak pengemudi imigran kehilangan pekerjaan. Mereka sebelumnya lulus dengan sistem lama, kini harus beradaptasi dengan standar baru yang lebih ketat.
Kasus kecelakaan fatal yang relatif tinggi memang menjadi latar belakang kebijakan ini. Sebagai catatan, beberapa insiden melibatkan pengemudi yang tidak memenuhi syarat ini telah memicu kekhawatiran di dalam negeri Amerika Serikat dan memaksa pemerintah akhirnya mengambil langkah tegas ini.
Saat ini juga masih banyak sekolah pelatihan ilegal yang begitu gampang meluluskan pengemudi tanpa standar. Hal itu yang membuat pemerintah akhirnya bergerak cepat dengan menutup ratusan institusi ilegal tersebut.
Kebijakan baru ini memang langsung berdampak besar bagi industri logistik AS. Banyak perusahaan jasa pengiriman mulai kesulitan mencar pengemudi truk yang sesuai standar. Akibatnya saat ini biaya operasional menjadi membengkak akibat makin sedikitnya sopir truk yang memenuhi standar.
Singkatnya, kebijakan baru ini menunjukkan dilema besar. Di satu sisi keselamatan harus diutamakan, tetapi stabilitas ekonomi juga penting.

