Catatan Kaki untuk Adam Smith: Mengenang 250 Tahun “The Wealth of Nations”
Oleh: Agustinus Tetiro
Amat lebat dan judulnya panjang. An Inquiry into the Nature and Causes of The Wealth of Nations (1776) bukan sebuah buku, tetapi kumpulan 5 buku yang disatu-cetak-an.
Menulis catatan kaki yang kurang dari seribu kata untuk sebuah buku yang sudah terlalu hebat pastilah sebuah pengkhianatan! Maka, dengan rendah hati, saya hanya mau bercerita tentang pengalaman membaca.
Semester lalu, saat sedang mempersiapkan kuliah Filsafat Ekonomi sebagai dosen tidak tetap di FEB Unika Atma Jaya Jakarta, saya jalan-jalan ke Blok M Plaza, Jakarta Selatan. Tempat favorit saya lantai dasar: markas penjualan buku bekas terbesar di Jakarta.
Saat sedang asyik mengobrol dengan seorang penjual, datang seorang gadis cantik, “Ada buku Adam Smith, The Wealth of Nations?”
Tidak ada.
Saya memberanikan diri, “Cari dan mau The Wealth of Nations buat apa? Itu buku tua yang sudah jarang dibaca”
“Ada tugas dari dosen, Pak,” katanya
“Kuliah dimana? Tugas apa?”
“Di Cikarang, Ambil hukum. Tugas tentang keadilan bisnis menurut Adam Smith”
*****
Cerita tentang keadilan bisnis menurut Adam Smith mengingatkan saya pada pertengahan 2021 ketika menulis tesis berjudul “Arti dan Relevansi Hukum Kodrat terhadap Pemikiran Ekonomi Politik Adam Smith” pada program magister (S2) di STF Driyarkara. Pembimbing akademik saya Dr Dwi Kristanto SJ, seorang doktor filsafat, yang memberikan kuliah pilihan Arti dan Relevansi Hukum Kodrat.
Saya lama menjadi jurnalis di bursa efek Indonesia (BEI). Saya merasa heran dengan penggambaran manusia sebagai makhluk ekonomi (homo oeconomicus). Saat saya menjadi reporter pada 2012-2019, banyak politisi bangsa kita saat ini masih merupakan pengusaha, seperti Airlangga Hartarto sebagai ketua asosiasi emiten Indonesia (AEI), Rosan Roeslani dengan Recapital-nya masih sering ke BEI untuk sejumlah urusan. Erick Thohir kerap kali datang datang untuk urusan IPO sejumlah perusahaannya, termasuk ANTV. Sandiaga Uno sering datang untuk sekedar bertemu wartawan di press room.
Siapakah mereka ini? Inilah yang saya ingin tahu!
Melihat judul tesis itu, direktur program pascasarjana, Dr Herry Priyono SJ langsung berkomentar, “Gusti, kau pikir dunia ini berhenti di abad 18. Oke fine, selamat membaca The Wealth of Nations. Kita bertemu di ujian ya,” katanya. Sayang seribu sayang, Romo Herry meninggal sebelum kami menggelar ujian.
Romo Dwi memberi tugas yang berat. “Baca dengan tekun The Wealth of Nations. Nanti kalau kita bertemu, saya bisa saja memintamu membuka salah satu halamannya, lalu baca dan jelaskan maknanya”
Saya meminjam buku tebal itu dari perpustakaan. Menentengnya saja sudah terasa berat, apalagi membacanya. Kesan pertama, jujur: membosankan.
Pilihannya: apakah saya akan membaca saja dari awal hingga akhir atau memilih bagian-bagiannya. Ketika ada waktu kosong saat liburan, saya membaca buku ini dari awal hingga akhir: antara mengerti dan tidak mengerti.
Apakah dapat jawaban tentang siapakah manusia ekonomi? Tentu saja tidak!
Ini kelas filsafat. Kita mesti tahu diri. Ada semacam perintah tentang kerendahan hati: baca dari para komentator untuk memahami konteks sebuah karya. Pertama, dengan membaca filsuf-filsuf sezamannya. Kedua, membaca karya para komentator kontemporer.
Saya memulai petualangan baru seperti rasa ingin tahu seorang anak kecil dengan membeli buku komik Why? Classic & Liberal Arts: The Wealth of Nations Adam Smith. Ini buku terbitan Korea Selatan. Penerbit di Korea Selatan merasa penting memperkenalkan figur Adam Smith kepada anak-anak dengan suatu tujuan jangka panjang, supaya anak-anak tahu jalan menuju “Masyarakat yang hidup sejahtera” (hlm.3)
Kemudian, saya membeli seri komik lain The Philosophy Book. Big Ideas Simply Explained. Pada bagian penjelasan tentang Adam Smith, mereka memberi judul yang eye-catching: Manusia adalah hewan yang (mampu) melakukan penawaran. Man is an animal that makes bargains (hlm.160-163).
Selanjutnya, Oxford Handbook of Adam Smith (2013) dan Cambridge Companions of Adam Smith (2006). Ini dua pengantar yang baik dan selalu jadi rekomendasi.
Bacaan-bacaan yang pada awalnya hanya untuk menjawab pertanyaan singkat siapakah makhluk ekonomi itu ternyata membawa saya pada makin luasnya makna. The Adam Smith Problem dari para filsuf Jerman memusingkan kita dengan mengatakan ada dua gambaran manusia yang bertolak belakang pada dua karya Adam Smith. The Theory of Moral Sentiments (1759) melukiskan manusia sebagai makhluk yang bisa bersimpati (homo sympaticus). Sementara, dalam The Wealth of Nations, ada manusia egoistik yang selalu mengejar kepentingan-diri (self-interest).
Tidak ada pilihan selain membaca The Theory of Moral Sentiments. Buku ini lebih enak dibaca, bisa dinikmati sebagai sastra, tetapi belum membantu banyak.
Beberapa buku dari sejumlah komentator Adam Smith kemudian membuat saya tahu bahwa tidak ada kontradiksi antara homo sympaticus dan ‘homo oeconomicus’ yang digambarkan sebagai pengejar kepentingan-diri. Secara kodrati, manusia adalah makhluk sosial yang bisa bersimpati. Hal ini ditemukan melalui jalan pemeriksaan arti dan relevansi hukum kodrat pada pemikiran ekonomi politik Adam Smith.
Singkatnya begini, kepentingan-diri mendapatkan arti baru pada Adam Smith. Self-interest dibedakan dari selfishness. Masing-masing kita harus mencintai diri (self-love) secara benar—itulah kepentingan diri– yang pada gilirannya nanti bisa membentuk rasa cinta satu sama lain: saling memenuhi kebutuhan dalam suatu mekanisme tawar-menawar yang membuat martabat kita sebagai manusia terjaga.
Ada sejumlah komentator berbahasa Inggris yang memberikan pandangannya tentang hal ini dan saya belajar banyak (Craig Smith 2005, Haakonssen 2006, Goecmen 2007, Brown 2008, Milgate & Stimson 2009, Morgan 2010, Ottensen 2011, Berry&Paganelli 2013, Hill&Montag 2014, Hanley 2016, Schliesser 2017, Hanley 2019, Hill 2020). Dari konteks Indonesia, saya belajar pada karya-karya Sonny Keraf dan Herry Priyono.
Dari mereka ini, saya menemukan kekayaan penafsiran atas Adam Smith sekaligus tugas baru: ada banyak hal tentang sang filsuf yang belum diketahui. Ambil contoh misalnya istilah-istilah kunci Adam Smith seperti simpati, impartial spectators, kepentingan-diri, invisible hand, pembagian kerja, merkatilisme, dan lain-lain ternyata adalah subjek-subjek yang kemudian amat luas direfleksikan lagi oleh sejumlah pembelajar lintas-ilmu.
****
Saya membayangkan gadis cantik dari Cikarang ‘bertemu’ Adam Smith di tengah lebatnya ‘hutan’ The Wealth of Nations. Dalam suasana abad ke-18, sang gadis mungkin akan kebingungan dengan sejumlah istilah teknis seperti keadilan komutatif, keadilan distributif, asas no-harm, non-intervention, dan lain-lain.
Welcome to the jungle, Nona!
Kami yang lain mungkin perlu peta jalan, sambil melihat Trump berteriak tentang tarif resiprokal dan perang dagang: “It’s not fair for USA!”
Keadilan macam apa?
Trump dan kita semua perlu membaca Adam Smith, dengan sikap rendah hati seorang pembelajar: sambil membuat catatan kaki sederhana seperti ini

