Jakarta (tutur.co.id) — Pemerintah Iran akhirnya angkat bicara terkait serangan drone dan rudal yang diluncurkan ke sejumlah negara tetangga dalam beberapa hari terakhir. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan langkah militer tersebut dilakukan semata-mata sebagai bentuk pertahanan diri.
Dalam enam hari terakhir, menurut laporan media IranWire, Republik Islam Iran melakukan serangan sebagai respons atas apa yang disebut Teheran sebagai agresi dari Amerika Serikat dan Israel.
Pada Rabu (4/3/2026) atau 13 Esfand 1404 dalam kalender Iran, Pezeshkian mengirim pesan resmi kepada para pemimpin negara-negara kawasan Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa Iran sebelumnya telah menempuh jalur diplomasi untuk meredam konflik, namun situasi memaksa pemerintah mengambil tindakan militer.
“Iran telah mencoba bekerja sama dengan negara-negara tetangga untuk mencegah perang, tetapi situasi yang terjadi memaksa Teheran mengambil langkah militer sebagai respons terhadap agresi eksternal,” tulis Pezeshkian.
Eskalasi Konflik Lama yang Kembali Memanas
Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel bukanlah hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan ketiga pihak terus diwarnai konflik terbuka maupun bayangan.
Beberapa isu utama yang memicu eskalasi antara lain:
(1) Program nuklir Iran, yang dicurigai Barat berpotensi dikembangkan menjadi senjata nuklir.
(2) Persaingan geopolitik di Timur Tengah, termasuk pengaruh Iran di Suriah, Irak, Lebanon, dan Yaman.
(3) Sanksi ekonomi dan operasi militer terbatas, yang kerap memancing aksi balasan.
(4) Lonjakan harga minyak global dan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz juga turut menambah kekhawatiran pasar internasional terhadap potensi konflik regional yang lebih luas.
Profil Presiden Masoud Pezeshkian
Masoud Pezeshkian merupakan Presiden ke-9 Iran yang mulai menjabat sejak 2024.
Data singkat:
Lahir: 29 September 1954, Mahabad, Iran
Profesi awal: Dokter bedah jantung
Afiliasi politik: Reformis
Menjabat presiden: sejak 2024
Sebelum menjadi presiden, Pezeshkian pernah menjabat sebagai Menteri Kesehatan pada era Presiden Mohammad Khatami (2001–2005) dan lama menjadi anggota parlemen (Majles) dari Tabriz.
Ia dikenal sebagai politisi reformis moderat yang mendorong dialog dengan Barat, termasuk upaya menghidupkan kembali kesepakatan nuklir. Namun dalam isu keamanan nasional dan tekanan militer, Pezeshkian tetap menunjukkan sikap tegas terhadap Israel dan kekuatan Barat.
Risiko Konflik Lebih Luas
Pernyataan resmi Iran ini menandai babak baru dalam dinamika keamanan kawasan Timur Tengah. Meski diklaim sebagai langkah defensif, serangan lintas batas berisiko memicu eskalasi lebih luas, terutama jika mendapat respons militer lanjutan.
Situasi kini berada dalam fase sensitif, dengan komunitas internasional menanti apakah jalur diplomasi masih memiliki ruang, atau justru kawasan kembali memasuki siklus konflik terbuka.

