Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak melemah pada perdagangan Senin (2/3/2026), di tengah meningkatnya sentimen risk-off global. Pada sesi terakhir, IHSG ditutup stagnan di level 8.235 dengan catatan net sell asing sebesar Rp802 miliar.
Menurut BRI Danareksa Sekuritas, pergerakan IHSG hari ini berpotensi volatil dengan kecenderungan melemah. Eskalasi konflik AS–Israel dan Iran mendorong investor global beralih ke aset safe haven, menekan pasar saham emerging market termasuk Indonesia.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati potensi lonjakan harga minyak jika terjadi gangguan distribusi di Selat Hormuz. Kenaikan harga energi berisiko meningkatkan tekanan inflasi dan biaya produksi emiten, yang pada akhirnya bisa membebani kinerja laba.
Meski demikian, tekanan terhadap IHSG dinilai relatif terbatas. Struktur indeks yang cukup besar diisi saham berbasis komoditas berpotensi menjadi penopang, terutama jika harga minyak dan emas terus menguat.
Secara teknikal, area support terdekat IHSG berada di kisaran 8.150–8.100.
Sementara itu, bursa di Wall Street ditutup melemah pada perdagangan terakhir. Dow Jones turun 1,05% ke 48.977,9, S&P 500 terkoreksi 0,43% ke 6.878,8, dan Nasdaq melemah 0,92% ke 22.668,2—mencerminkan kehati-hatian investor global.
Untuk strategi trading hari ini, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan saham MEDC, ELSA, dan MDKA, yang dinilai berpotensi mendapat sentimen positif dari pergerakan harga komoditas.

