Bengkulu (tutur.co.id) — Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong pengembangan Rumah Pengasingan Bung Karno sebagai pusat informasi, pembelajaran, serta destinasi edukasi dan rekreasi budaya. Bangunan bersejarah yang telah berstatus Cagar Budaya Peringkat Nasional itu dinilai perlu terus dihidupkan melalui berbagai aktivitas kebudayaan.
“Kita berharap semakin banyak generasi muda yang datang dan belajar dari tempat ini. Situs ini telah ditata dengan baik, dan ke depan perlu terus diaktifkan melalui kegiatan-kegiatan budaya,” ujar Fadli dalam keterangan pers, seperti yang diterima Antara di Jakarta, Rabu.
Dalam kunjungan budayanya ke Bengkulu, Fadli menegaskan bahwa rumah tersebut bukan sekadar ruang memorial, melainkan saksi penting perjalanan intelektual Soekarno selama masa pengasingan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1938–1942.
Menurut dia, penguatan fungsi edukatif dapat diwujudkan melalui penyelenggaraan pembacaan puisi, pertunjukan musik, diskusi kebudayaan, hingga pengembangan ruang baca atau perpustakaan mini di kawasan tersebut.
“Tempat ini bisa menjadi ruang hidup kebudayaan. Bisa diadakan pembacaan puisi, pertunjukan seni, diskusi, atau kegiatan kreatif lain yang melibatkan anak-anak muda,” katanya.
Fadli juga menilai dukungan fasilitas penunjang, seperti penyediaan kopi khas Bengkulu dan kuliner tradisional, dapat meningkatkan daya tarik kunjungan, terutama bagi generasi muda dan wisatawan dari luar daerah.
Bengkulu memiliki arti penting dalam sejarah nasional. Di kota ini, Bung Karno bertemu dengan Fatmawati, yang kelak menjahit Bendera Pusaka Merah Putih. Selama masa pengasingan di Bengkulu—setelah sebelumnya diasingkan di Ende pada 1934–1938—Bung Karno tetap aktif berdiskusi dengan tokoh agama dan masyarakat, serta menghasilkan sejumlah karya, termasuk naskah sandiwara Monte Carlo.
“Para pendiri bangsa kita mengalami pengasingan di berbagai daerah. Bung Karno di Ende dan Bengkulu. Bung Hatta dari Digul ke Banda Neira. Bung Syahrir juga dari Digul ke Banda Neira, kemudian dipindahkan ke Sukabumi. Tempat-tempat ini menjadi saksi hidup perjuangan mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,” ujar Fadli.
Ia menekankan bahwa pengasingan tidak menghentikan proses perenungan dan perjuangan para tokoh bangsa. Karena itu, penguatan fungsi kultural Rumah Pengasingan Bung Karno diharapkan dapat menjadikannya bukan sekadar lokasi peringatan seremonial, melainkan ruang inspiratif bagi generasi penerus.
“Melalui penguatan fungsi edukatif dan kultural, kita ingin tempat ini menjadi sumber inspirasi agar generasi muda memahami dan melanjutkan semangat perjuangan para pendiri bangsa,” kata Fadli.

