Jakarta (tutur.co.id)- Hari-hari awal puasa kadang tidak hanya terasa di perut dan emosi, tetapi juga terlihat di wajah. Kulit Anda mungkin tampak lebih kering, kurang segar, bahkan sedikit kusam. Padahal rutinitas skincare tidak berubah. Apa yang sebenarnya terjadi?
Dehidrasi Ringan yang Tak Terasa
Selama berpuasa, tubuh tidak mendapat asupan cairan selama belasan jam. Jika kebutuhan cairan saat sahur dan berbuka tidak terpenuhi dengan baik, tubuh bisa mengalami dehidrasi ringan.
Kulit adalah salah satu organ pertama yang menunjukkan tanda kekurangan cairan. Ketika hidrasi menurun, elastisitas kulit berkurang, produksi minyak alami bisa terganggu, dan permukaan kulit tampak lebih kering serta kurang bercahaya.
Penelitian dalam Clinical, Cosmetic and Investigational Dermatology menjelaskan bahwa hidrasi yang cukup berperan penting dalam menjaga fungsi skin barrier dan tampilan kulit yang sehat. Ketika kadar air di lapisan kulit menurun, tekstur kulit bisa tampak lebih kasar dan kusam.
Perubahan Pola Makan dan Gula Darah
Awal Ramadan sering diwarnai perubahan pola makan yang cukup drastis. Dari tiga kali makan menjadi dua waktu utama, kadang dengan komposisi yang berbeda—lebih manis saat berbuka, misalnya.
Lonjakan gula darah yang tinggi setelah Anda konsumsi makanan manis dapat memicu proses yang disebut glikasi. Dalam proses ini, molekul gula berikatan dengan kolagen dan elastin, yang dalam jangka panjang bisa memengaruhi kekenyalan dan tampilan kulit.
Meski efek glikasi lebih terlihat dalam jangka panjang, fluktuasi gula darah yang tajam juga dapat memicu peradangan ringan yang berkontribusi pada tampilan kulit yang kurang segar.
Pola Tidur yang Bergeser
Sahur dini hari dan ibadah malam sering membuat durasi tidur berkurang atau terfragmentasi. Kurang tidur terbukti memengaruhi regenerasi kulit.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Sleep menunjukkan bahwa kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan peningkatan tanda penuaan kulit dan penurunan fungsi skin barrier. Saat tidur, tubuh memproduksi hormon pertumbuhan yang membantu perbaikan jaringan, termasuk kulit.
Jika waktu istirahatAnda terganggu, proses perbaikan ini tidak optimal. Hasilnya? Kulit tampak lebih lelah.
Stres dan Hormon Kortisol
Awal Ramadan juga merupakan fase adaptasi. Tubuh menyesuaikan ritme makan, tidur, dan aktivitas. Dalam fase ini, hormon kortisol bisa sedikit meningkat sebagai respons terhadap stres fisiologis.
Kortisol yang tinggi dalam jangka pendek dapat meningkatkan peradangan dan memengaruhi produksi minyak di kulit. Pada sebagian orang, ini bisa membuat kulit lebih kering. Pada yang lain, justru lebih berminyak dan mudah berjerawat.
Kabar baiknya, kondisi-kondisi di atas biasanya bersifat sementara. Tubuh manusia sangat adaptif. Setelah beberapa hari, metabolisme dan ritme biologis mulai stabil. Banyak orang justru merasakan kulit lebih bersih dan lebih jarang berjerawat di pertengahan Ramadan, terutama jika pola makan dan hidrasi terjaga.
Beberapa hal sederhana yang bisa membantu Anda:
• Pastikan asupan cairan cukup antara berbuka dan sahur.
• Kurangi konsumsi gula berlebihan saat berbuka.
• Prioritaskan tidur berkualitas, meski durasinya sedikit berubah.
• Gunakan pelembap yang mendukung skin barrier.
Kulit yang terlihat lebih kusam di awal puasa bukan berarti tubuh “tidak kuat”. Ia hanya sedang beradaptasi. Dan seperti halnya emosi dan energi, kulit Anda pun butuh waktu untuk menemukan ritmenya kembali.

