Jakarta (Tutur.co.id) – PT Agrinas Pangan Nusantara saat ini tengah jadi pusat perhatian publik. Entitas yang bergerak dalam penguatan sektor pangan nasional ini bikin heboh dengan rencananya mengimpor 105.000 kendaraan dari India.
PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) adalah BUMN yang bertransformasi dari perusahaan jasa konstruksi (sebelumnya Yodya Karya) menjadi entitas yang berfokus pada sektor pangan dan pertanian, di bawah naungan Danantara.
Perusahaan ini ditugaskan mengelola food estate (lumbung pangan) serta rantai pasok dari hulu ke hilir. Dengan kata lain, perusahaan ini diposisikan sebagai kendaraan strategis negara untuk memperkuat distribusi, logistik, dan ketersediaan bahan pangan pokok di tengah dinamika harga serta tantangan rantai pasok global.
Fokus utamanya meliputi pengadaan dan distribusi bahan pangan pokok, penguatan rantai pasok dari hulu ke hilir, kerja sama dengan koperasi, BUMDes, dan pelaku usaha daerah serta bertugas menjaga stabilitas harga melalui intervensi pasokan.
Transformasi Perusahaan
Pada awal 2025, perusahaan ini bertransformasi dari BUMN konstruksi (PT Yodya Karya) menjadi perusahaan dengan fokus pertanian dan pangan, dengan mayoritas saham dipegang oleh Biro Klasifikasi Indonesia.
Saat itu fokus pada pengelolaan pertanian menyeluruh, mencakup pencetakan lahan, penanaman, pemupukan, panen, hingga pascapanen (pengeringan dan penggilingan gabah/jagung).
Agrinas saat ini mengelola proyek lumbung pangan nasional seluas 425 ribu hektare yang tersebar di Kalimantan Selatan, Tengah, Barat, Sumatera Selatan, dan Merauke, Papua Selatan. Juga membangun Rice Milling Unit (RMU) atau mesin penggilingan padi dan jagung untuk efisiensi rantai pasok.
Tujuan strategisnya tentu mendukung swasembada pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani melalui pendekatan modern dan terintegrasi. Tentu dalam usaha pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional dengan fokus pada produk berkarbohidrat tinggi.
Geger Impor Kendaraan dari India
Nama Agrinas menjadi buah bibir dalam beberapa pekan terakhir menyusul keputusan untuk mengimpor kendaraan niaga dari India. Langkah ini langsung mendapat kecaman karena dianggap tidak peduli dengna kondisi pasar otomotif tanah air. Total 105.000 kendaraan niaga akan didatangkan dari India oleh Agrinas.
Dari total 105 ribu kendaraan niaga yang akan diimpor tersebut datang dari dua pabrikan otomotif Mahindra dan Tata Motors. Langkah ini tentu sangat mengejutkan mengingat kondisi pasar otomotif nasional tengah mengalami tekanan dan penurunan penjualan.
Langkah Agrinas ini juga mendapat ‘kecaman’ dari beberapa kalangan termasuk anggota dewan, kadin hingga Kementerian Perindustrian.

