Jakarta (tutur.co.id) — Langkah mengejutkan datang dari investor legendaris Warren Buffett. Setelah lima tahun lalu menyebut industri surat kabar sebagai sektor yang “tamat”, konglomerasi miliknya, Berkshire Hathaway, resmi menyuntikkan dana US$ 351,7 juta atau sekitar Rp 5,9 triliun ke The New York Times.
Berdasarkan laporan terbaru ke Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) Amerika Serikat, Berkshire tercatat membeli 5,07 juta lembar saham koran berusia 175 tahun tersebut pada akhir 2025. Investasi ini bertepatan dengan momentum historis pengunduran diri Buffett dari kursi CEO setelah hampir enam dekade memimpin perusahaan.
Dari “Toast” ke Taruhan Digital
Pergerakan ini menandai perubahan sikap yang signifikan. Pada 2020, Buffett melepas seluruh 31 surat kabar miliknya senilai US$ 140 juta, dengan alasan pesimistis terhadap penurunan pendapatan iklan cetak.
Kini, kembalinya Buffett ke industri media dipandang sebagai sinyal kepercayaan terhadap transformasi digital yang dijalankan The New York Times—khususnya model bisnis berbasis langganan (subscription-based model) yang dinilai lebih tahan terhadap disrupsi platform teknologi.
Pakar media Northwestern University, Tim Franklin, menyebut langkah tersebut sebagai “momen lingkaran penuh (full circle)” bagi Berkshire Hathaway dan bentuk dukungan atas strategi bisnis digital yang dijalankan perseroan media tersebut.
Analis menilai, berbeda dengan era dominasi iklan cetak, kekuatan utama media saat ini terletak pada kualitas konten premium, loyalitas pelanggan digital, serta diversifikasi produk—mulai dari newsletter, podcast, hingga konten berbasis data.
Tren Miliarder Masuk Media
Masuknya Buffett menambah daftar miliarder yang menempatkan sebagian kekayaan mereka di media arus utama. Beberapa di antaranya:
(1) Jeff Bezos – Mengakuisisi The Washington Post pada 2013 senilai US$ 250 juta.
(2) Marc Benioff – Mengambil alih majalah Time.
(3) Carlos Slim Helú – Pemegang saham signifikan di The New York Times.
(4) News Corp milik keluarga Murdoch – Menguasai The Wall Street Journal dan New York Post.
Fenomena ini terjadi di tengah tekanan industri media global yang menghadapi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan migrasi belanja iklan ke platform digital seperti Google dan Meta.
Antara Prestise dan Demokrasi
Secara bisnis, media cetak memang tak lagi menjadi “mesin uang” seperti dua dekade lalu. Namun, nilai merek (brand equity), pengaruh politik, serta posisi strategis dalam lanskap demokrasi menjadikan media sebagai aset prestisius bagi investor kelas kakap.
Masuknya para miliarder juga dipandang memberi ruang napas bagi ruang redaksi untuk bertransformasi tanpa tekanan jangka pendek dari pasar modal. Namun di sisi lain, konsentrasi kepemilikan media di tangan segelintir individu terkaya memunculkan diskursus mengenai independensi editorial dan potensi konflik kepentingan.
Langkah Buffett kali ini bukan sekadar investasi finansial, melainkan juga sinyal bahwa model bisnis media berbasis langganan dan kekuatan merek global masih memiliki daya tarik jangka panjang—bahkan bagi investor paling konservatif sekalipun.

