Jakarta (tutur.co.id) — World Gold Council (WGC) melaporkan penguatan signifikan permintaan emas perhiasan global sepanjang 2025, seiring tetap kuatnya peran emas sebagai aset bernilai jangka panjang di tengah tekanan ekonomi global.
Head of Asia-Pacific (ex-China) and Global Head of Central Banks WGC, Shaokai Fan, mengungkapkan bahwa permintaan emas perhiasan global meningkat 18% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan 2024. Lonjakan tersebut mendorong nilai total permintaan perhiasan emas mencapai US$172 miliar.
“Nilai total permintaan perhiasan emas meningkat 18% secara tahunan menjadi US$172 miliar, menegaskan relevansi emas bagi konsumen dalam jangka panjang,” ujar Shaokai Fan dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Permintaan Emas Perhiasan Indonesia Naik
WGC mencatat tren positif tersebut juga terjadi di Indonesia. Sepanjang 2025, permintaan emas perhiasan nasional tumbuh 5% secara tahunan, meskipun dihadapkan pada kenaikan harga emas dan tekanan biaya hidup.
Menariknya, WGC mengamati adanya pergeseran preferensi konsumen Indonesia ke emas berkadar rendah, yakni di bawah 14 karat, sebagai strategi untuk tetap memiliki emas di tengah harga yang semakin tinggi.
Secara keseluruhan, total permintaan emas konsumen di Indonesia pada 2025 tercatat mencapai 48,2 ton, atau tumbuh 2% secara tahunan.
“Di Indonesia, kami melihat pergeseran yang jelas menuju pola pikir investasi yang lebih strategis. Alih-alih menjual emas yang dimiliki, banyak konsumen memilih menggunakannya sebagai agunan untuk mengakses likuiditas melalui mekanisme gadai,” jelas Shaokai Fan.
Menurutnya, strategi tersebut memungkinkan masyarakat memanfaatkan kenaikan harga emas, sembari tetap mempertahankan kepemilikan aset.
Emas Tetap Jadi Aset Andalan Rumah Tangga
Shaokai Fan menambahkan, perilaku konsumen tersebut semakin menegaskan peran emas sebagai aset finansial andalan rumah tangga Indonesia, baik sebagai instrumen lindung nilai maupun sarana pengelolaan likuiditas.
Selain itu, WGC juga menyoroti kuatnya posisi emas di Indonesia yang ditopang oleh keterbatasan pasokan global serta peran emas sebagai kebutuhan budaya yang esensial. Kombinasi tersebut memastikan emas tetap menjadi aset strategis yang tak tergantikan.
Permintaan emas di Indonesia juga cenderung konsisten meningkat menjelang periode perayaan, seperti Hari Raya Idulfitri. Likuiditas rumah tangga yang lebih tinggi, didukung oleh pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) serta tradisi pemberian hadiah, mendorong pembelian emas sebagai instrumen tabungan jangka panjang dan sarana transfer kekayaan antargenerasi.
Dengan demikian, daya tarik emas di Indonesia dinilai tetap kuat, terlepas dari fluktuasi harga emas global.

