Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak labil cenderung sideways pada perdagangan Rabu (28/1/2026). Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak di kisaran support 8.850, pivot 8.950, dan resistance 9.050.
Pada perdagangan sebelumnya, Selasa (27/1/2026), IHSG ditutup menguat terbatas 0,05% ke level 8.980,23, setelah sempat bergerak di zona merah. Sektor teknologi mencatatkan penguatan terbesar, sementara sektor industri membukukan koreksi terdalam.
Phintraco Sekuritas menilai pergerakan pasar masih dibayangi sentimen negatif, salah satunya terkait kabar Satgas PKH yang membuka peluang Danantara mengambil alih 28 perusahaan yang izinnya dicabut akibat bencana di Sumatra, termasuk tambang emas milik anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR).
“Sentimen tersebut mendorong tekanan signifikan pada saham UNTR dan ASII, sehingga turut membebani pergerakan IHSG,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Rabu (28/1/2026).
Meski demikian, pelemahan IHSG tertahan oleh rebound sejumlah saham yang sebelumnya tertekan selama beberapa hari terakhir, sehingga indeks masih mampu ditutup menguat tipis.
Dari sisi teknikal, Phintraco Sekuritas mencatat indikator Stochastic RSI berada di area oversold dan berpotensi membentuk golden cross. Namun demikian, histogram negatif MACD masih melebar, menandakan tekanan jual belum sepenuhnya mereda.
IHSG tercatat ditutup di bawah MA5, tetapi masih bertahan di atas MA20. Dengan kondisi tersebut, IHSG diperkirakan masih akan bergerak sideways di rentang 8.850–9.050 pada perdagangan hari ini.
Rupiah menguat, investor tunggu keputusan The Fed
Sementara itu, nilai tukar rupiah di pasar spot kembali menguat ke level Rp16.768 per dolar AS pada perdagangan Selasa (27/1). Pergerakan mata uang Asia terpantau variatif, seiring investor menantikan hasil rapat The Federal Reserve yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75%.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari pernyataan Menteri Keuangan Purbaya yang optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,4% pada 2026, meningkat dari estimasi 5,2% pada 2025. Optimisme tersebut didorong oleh penguatan permintaan domestik serta sektor manufaktur yang masih berada di zona ekspansi.
Rekomendasi saham
Dalam kondisi pasar yang masih fluktuatif, Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham-saham yang dinilai relatif tahan banting, yakni TAPG, TKIM, SCMA, TPIA, dan INET.

